Today, aku mau cerita soal pengalaman pergi ke Karangkates bersama abi, kedua saudaraku dan Salim, teman kami dari Pramuka. Sebenarnya kemarin perjalanan ke Karangkates ini direncanakan bakal bersama Kak Totok, pembina pramuka kami, tetapi kemarin anaknya baru saja melahirkan, jadi Kak Totok tidak bisa ikut menemani.

Oya, tema perjalanan hari ini adalah memancing. Di sebuah waduk besar di Karangkates yang disarankan oleh Kak Totok.

Sedang karena hari ini adalah hari no-gadget-day, kami yang tidak punya jadwal sama sekali memutuskan untuk tidak membatalkan acara hari ini dan tetap berangkat walaupun tanpa Kak Totok.

Berangkat jam sepuluh, kami menjemput Salim di Alun-Alun Balai Kota. Perjalanan ke Karangkates yang berada di sekitar Blitar lumayan lama, dua jaman. Sampai di Karangkates jam dua kurang, kami tidak langsung memancing, melainkan shalat Dzuhur dan makan dulu dengan perbekalan super lengkap yang dibawa dari rumah. Ada rice cooker penuh berisi nasi yang masih cukup hangat, sebowl tahu kecap, air putih setengah gallon, dan dua kantong kertas ayam dari Miami yang juga masih hangat.

Setelah makan, kami langsung membawa peralatan memancing menuju waduk.

Memancingnya sih sebenarnya nggak lama. Melainkan cuma sekitar dua setengah jaman. Dan setengah jam itu aku manfaatkan untuk tidur di salah satu dari ratusan batu besar yang ada di tepi waduk, setelah capek menunggui mas Azmi dan Salim untuk mendapatkan ikan tangkapan dan menonton orang-orang lain yang juga memancing.

Disini aku mau memberikan beberapa info yang kudapat dari menontoni orang-orang lain yang juga memancing di tepi waduk tersebut, dengan beberapa saran memancing yang kuambil dari mengamati cara memancing mereka.

First.

Menggunakan lumut sebagai umpan. Kalau kami membawa lumayan banyak bahan sebagai umpan ikan tersebut, yaitu lumut, cacing, bahkan jangkrik. Walau yang digunakan hanya cacing dan lumut saja, sih. Kata kakakku, kalau jangkrik digunakan sebagai umpan, baunya bakalan mengganggu.

Second.

Lumut itu diletakkan dalam ember, lalu diambil langsung menggunakan kail pada pancing dan tidak menyentuh telapak tangan. Mungkin kalau menyentuh telapak tangan, ikan bisa menebak baunya dan tidak mau memakan lumut yang sudah ‘terinfeksi’ bau manusia tersebut.

Last.

Yang paling diketahui seluruh pemancing dan nelayan di seluruh dunia.

Bersabar.

Akutu orangnya rada suka nggak sabaran dan akhirnya, pancing yang diserahkan padaku lima menit langsung kuserahkan pada abi dan aku memilih untuk menonton saja.

Sambil membawa jajanan-jajanan yang tadi beli di Indomaret, aku menaiki bebatuan putih yang curam dan mencari tempat yang enak untuk diduduki. Dari tempat itu aku mengetahui kebiasaan orang-orang yang biasa memancing disitu.

Apa kebiasaannya?

Kalau dapat ikan, dan ikannya kecil, ikan itu bakalan dibuang ke bebatuan dibelakang dan menjadi makanan kucing yang sudah menunggu di belakang deretan para pemancing.

Oya, selagi menunggu di bebatuan, aku sempat tertidur. Lumayan lama eh, setengah jaman kata abi. Honestly, aku bisa tidur dimana saja, bahkan saat lagi malas di rumah aku sempat ngeloyor ke sawah pada sore hari dan tidur selama lima belas menit di salah satu tapak jalan di sana. Untung lagi kering tanahnya dan gaada orang yang liat. Ntar dikira orang ilang, tidurnya kok di sawah.

Di Karangkates, kami tidak mendapat ikan apapun. Tapi biarlah, yang penting happy udah tidur dan makan sampai kenyang wkwk.

Pulang-pulang aku langsung beberes rumah, menyapu, dan mandi. Oya, kami sampai di rumah tepat jam tujuh malam. Pas waktu Isya’.

Dah ya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s