Bullying di Indonesia

bullying
cr: own

Belakangan, kasus bullying sedang menjadi sebuah viral tersendiri di Indonesia. Ada beberapa kasus yang terkait dengan bullying yang terjadi dalam beberapa bulan belakangan, salah satunya adalah pembullyan sejumlah mahasiswa Universitas Gunadarma kepada seorang mahasiswa berkebutuhan khusus dengan cara ditarik tasnya, ditertawai, diledek dan bermacam-macam perilaku pembullyan lainnya.

Ada juga seorang anak perempuan kelas VI SD yang dibully dan dianiaya oleh sekelompok geng remaja kelas VII SMP, yang awalnya bermula karena percekcokan anak tersebut dengan seorang teman perempuannya, dan berlanjut ke penganiayaan seperti dijambak dan ditendang sementara pelajar SD tersebut tidak melakukan perlawanan apapun kepada anak-anak remaja yang membullynya dan hanya bisa menurut saat disuruh mencium tangan para pembullynya dan dipaksa mencium kaki teman perempuannya yang memulai pembullyan tersebut dengan membawa teman-temannya ke Thamrin untuk membully korban bersama-sama.

Dan baru-baru ini, terjadi sebuah kasus pembullyan yang cukup parah sampai melenyapkan nyawa seorang siswa SMA di ‘Arena Gladiator’. Siswa SMA tersebut dikeroyok oleh berpuluh-puluh orang sampai kejang-kejang dan meninggal di tempat, membuat sang ibu menuntut keadilan atas kematian anaknya yang menghembuskan napas terakhirnya karena dibully secara kejam dan kelewatan seperti itu.

Bullying sendiri adalah tindakan dimana satu orang atau lebih mencoba untuk menyakiti atau mengontrol orang lain dengan kekerasan. Ada banyak jenis bullying, bisa dalam verbal, fisik, dan cyberbullying. Verbalbullying adalah jenis penindasan yang menyakiti dalam bentuk menghina, membentak dan menggunakan kata-kata kasar. Sementara memukul, mendorong, menendang, dan sebagainya adalah bentuk bullying fisik.

Cyber bullying juga merupakan salah satu momok berat untuk para pelajar di Indonesia.

Tahun 2016 lalu, ada kasus yang dialami oleh seorang siswi SMU asal Medan yang bernama Sonya Depari, yang di-bully habis-habisan oleh warganet di media sosial, pasca video dirinya yang berdebat dengan polwan yang menegurnya dan teman-temannya dan pernyataannya yang mengaku anak Jenderal Arman Depari tersebar luas di internet.

Sikapnya yang tidak sopan tersebut membuat pengguna internet marah dan membullynya sampai ayah Sonya meninggal dunia karena stroke setelah mendengar kabar yang tersebar mengenai putrinya tersebut; dan Sonya bisa dibilang merupakan korban cyberbullying setelah psikisnya menjadi terganggu oleh semua bullyan yang ditimpakan pada dirinya.

Dan juga belakangan ada Afi Nihaya, yang dibully oleh pengguna internet karena kasus dugaan plagiat beberapa artikel dan video yang viral merambah dunia cyber Indonesia. Afi mengatakan kalau dibully seluruh warga Indonesia itu sangat membuatnya stres dan memiliki gangguan psikis, dia sempat depresi dan mempunyai keinginan untuk bunuh diri.

Kelakuan tidak benar yang dilakukan oleh orang-orang yang dibully tersebut seharusnya tidak malah membuat kita untuk menjadi seorang dari salah satu warganet yang melakukan pada cyberbullying pada sesama manusia. Selain itu, nyatanya, netizen cyber Indonesia adalah negara yang menempati peringkat pertama dengan jumlah 38% penyumbang kasus cyberbully di dunia, dikutip dari data yang dihimpun pada tahun 2013 silam.

Dan menurut survei IPSOS di 24 negara termasuk Indonesia, didapati bahwa satu dari sepuluh atau sekitar 12% orang tua melaporkan bahwa anak mereka pernah mengalami cyberbullying, sekitar 60% menyatakan alat yang digunakan adalah Facebook.

Mengapa warganet Indonesia dapat menempati peringkat pertama penyumbang kasus cyberbully di dunia?

Ada beberapa alasannya, dan alasan utama adalah kebanyakan pengguna internet di Indonesia senang mencela kekurangan orang lain, terutama selebgram dan public figure. Mereka juga sering menyerang dengan komentar-komentar yang anarkis. Sebagian besar dengan tenangnya ‘mendorong’ orang lain untuk membully orang lain. Seperti dalam kasus Afi Nihaya, ribuan komentar yang pedas dan anarkis menyerang kolom komentar statusnya. Dan status tersebut juga langsung dibagikan oleh ribuan warganet, dengan tujuan seolah mempersilakan warganet lain untuk turut berpartisipasi melakukan bully pada Afi yang menurut mereka seakan ‘berulah lagi’ dan patut dibully.

LPSK yang merupakan singkatan dari Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban; merupakan sebuah lembaga untuk melindungi para korban bullying dan membantu mereka pulih dari gangguan psikis apabila mereka sampai terkena gangguan seperti itu.

 

Sumber Referensi:

http://jamespatrick26.blogspot.co.id/2017/07/4-alasan-kenapa-netizen-indonesia-bisa.html

http://bemfkunud.com/2016/09/23/kajian-cyberbullying-di-indonesia/

https://inet.detik.com/konsultasi-cyberlife/d-3188716/bahaya-cyberbullying-depresi-hingga-bunuh-diri

http://citizen6.liputan6.com/read/3026600/4-alasan-warganet-indonesia-jadi-juara-cyberbullying-di-dunia

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s