tracking+semalam di ngantang

Kemarin, ada sebuah acara perkumpulan khusus buat keluarga HS di Malang.

Kami ramai-ramai berkumpul di rumah Bu Farida di Ngantang, yang dekat dengan sebuah waduk alias danau yang sangat besar, menginap disana untuk semalam dan melakukan tracking yang seru. Tetapi sebagian besar anak homeschooling yang cowok tidak ikut, karena mereka memiliki jadwal tersendiri, yaitu backpacker-an ke Banyuwangi dan menginap di rumah Pak Slamet yang berada disana selama lima hari, termasuk kakakku.

Aku awalnya menimbang-nimbang, mau ikut apa tidak karena jelas aku adalah anak tertua disana selagi anak yang sebaya denganku hampir semua ada di Banyuwangi. Tapi karena gamau tinggal sendiri di rumah semalaman, akhirnya aku memutuskan untuk ikut.

Keluargaku berangkat dikecualikan kakakku pada hari Sabtu sore; membawa ransel-ransel dan tas yang dijejalkan dalam keranjang baju agar mudah membawanya.

Oh ya, aku belum bilang. Adikku sudah berangkat terlebih dahulu tadi pagi bersama rombongan pertama, dan aku, abi dan umi menyusul pada sore harinya karena umi juga harus pergi ke kampus.

Awal perjalanan, aku mengisi waktu dalam mobil dengan memainkan handphone umi. Tetapi umi yang selalu membatasi waktuku untuk bermain handphone tidak mengizinkanku main handphone sepanjang perjalanan -apalagi to be honest bermain handphone dalam mobil membuat kepalaku sedikit pusing.

Jadinya, setelah makan sepotong roti boy dan beberapa potong pisang kipas, aku memilih untuk tertidur karena perjalanan masih panjang.

Saat sampai, tempat yang kami tuju sangat gelap. Ada sebuah lapangan yang sangat besar di depan rumah Bu Farida dan kejauhan; yang seharusnya aku melihat waduk alias danau tersebut, diliputi oleh kegelapan tunggal.

Aku turun dari mobil dan melihat Arunia dan teman-temannya menongolkan kepala mereka di pagar rumah Bu Farida. Masih setengah mengantuk, aku mengedarkan pandangan kemudian menyeret kaki memasuki rumah tersebut. Ibu-ibu yang lain sedang mengobrol di ruang tengah.

Aku pernah beberapa kali berkunjung ke rumah Bu Farida, namun bukan rumah ini, melainkan rumah lamanya yang berbentuk minimalis dan tidak sebesar yang berada di Ngantang ini. Ada beberapa kamar dan di ruang tengah ada kasur untuk tempat beristirahat dan berbaring. Ada beberapa komik tersebar dan aku mengambil satu.

Setelah makan malam yang berupa bakso, aku membaca komik dan bermain handphone sebelum menyusul anak-anak ke samping rumah tempat mereka sedang bakar jagung.

Aku tidak ikut bakar-bakar dan makan jagungnya, namun ikut berbaur dan bermain bersama mereka; sambil menaiki sepeda dan berhenti di samping waduk sebelum tercebur .y

Tempatnya enak banget sumpah. Udara di samping waduk segar dan walau sedikit dingin, aku menyukai suasananya yang kaya pertanian sekaligus peternakan, yang dikarenakan ada sebuah kandang sapi perah di samping rumah Bu Farida. Pada pagi harinya, udara di sekitar kandang tersebut sangat berbau sapi.

Pada waktu tidur, anak-anak cewek yang sudah seperti geng sendiri itu berkerumun di kamar mereka dan bersiap tidur masih dengan obrolan mereka yang tiada henti. Aku melanjutkan rutinitasku yang tadi, kalau ngga baca komik ya main handphone.

Malam itu aku tidur lumayan larut.

Pagi harinya, aku bangun rada kesiangan. Begitu bangun, aku langsung pergi ke ruang makan yang juga sekaligus dapur dan melihat ibu-ibu duduk di meja makan sambil menyiapkan roti untuk dipanggang dalam oven.

Ada beberapa pak roti kecil yang kemudian diolesi dengan mentega dan meises, ditumpuk, lalu dipanggang. Selain itu ada juga selai stroberi dan beberapa topping lain.

Pagi itu kami sarapan dengan roti panggang dan susu segar, yang dibeli Bu Farida dari pemilik kandang sapi sebelah. Aku juga baru tahu dari beliau kalau susu sapi setelah diperah harus direbus terlebih dahulu sebelum diminum, bikos selama ini dari yang kubaca di buku Laura Ingalls, mereka begitu susunya diperah langsung diminum..

Jadwal hari itu adalah tracking ke gunung alias bukit yang cukup dekat darisana. Dari rumah Bu Farida, gunung itu kelihatan tinggi, dan emang iya.

Awalnya aku bimbang lagi mau ikut apa nggak, karena selain aku mager jalan, aku juga lagi berhalangan dan itu pasti bikin nggak nyaman, naik gunung saat sedang berhalangan. Buat yang cewek pasti mengerti.

Tapi daripada bosan di rumah terus, akhirnya aku ikut. Kami naik mobil terlebih dahulu ke rumah saudara Bu Farida dan Pak Heru di dekat bukit tersebut sebelum mulai tracking. Abis semuanya berkumpul, kami mulai berjalan.

Setelah lama sekali berjalan, aku rada menyesal kenapa setuju buat ikut ini. Menderita banget sumpah. Kalau misalnya aku pergi dalam keadaan normal, dan nggak berhalangan, mungkin bisa jalan sampai puncak. Saking menderitanya, aku jadi berkhayal buat lompat dari bukit lalu terbang pakai alat terbangnya Doraemon .g

Atau ngebikin alat terbang yang bisa bikin aku gausah capek-capek jalan naikin gunung. Makin aneh kan khayalannya.

Sedikit lagi sampai puncak, kami berhenti bikos sudah pada capai, termasuk aku. Setelah duduk dan berbaring sebentar di rumput, aku memilih untuk turun duluan, mungkin menyusul umi, Bu Dina dan Bu Farida yang tak jauh dibawah kami. Mereka nggak bisa ikutan naik lagi bersama yang lain karena harus menyusui bayinya.

Lalu aku turun lagi dan beberapa kali kesandung gegara kakiku gemetar. Sakit banget rasanya, ngedaki gunung selama dua jam lebih dan dalam kondisi yang lagi gaenak badan. Rasanya pengen pulang ke rumah dan menghempaskan badan di tempat tidurku yang nyaman. home sweet home gitu.

Lalu, umi menyusulku. Kami memutuskan untuk turun lebih dulu dari yang lain dan mungkin pulang ke rumah Bu Farida duluan dengan naik becak motor, walaupun ternyata begitu sampai di bawah, tak lama kemudian rombongan yang lain juga ikutan turun.

Begitu pulang, aku langsung mandi dan bebenah diri. Sehabis itu menenggelamkan diriku dalam asyiknya main handphone h3h3.

Setelah main handphone cukup lama, aku membantu menyapu dapur sedikit, main sepeda, main lempar bola bersama seluruh anak yang lain sampai rumah lwar byasa berantakan. Dan juga duduk di meja makan sambil minum susu dan makan semangka mendengarkan obrolan orang dewasa lainnya.

Walau ada beberapa ketidaknyamanan, aku nggak menyesali nginap di rumah Bu Farida. Bener-bener menyenangkan, suasananya enak, nyaman dan aku bisa mencicipi susu sapi segar asli setelah diperas dan direbus terlebih dahulu.

Waktu pulang, anak-anak cewek yang nggak mau pulang akhirnya ditinggal untuk menginap sehari lagi sementara yang lain pulang dulu, termasuk aku, umi dan abi. Arunia yang masih ingin bermain lagi bersama gengnya ditinggal disana.

Tau apa yang kulakukan begitu sampai di rumah?

Menghempaskan badan di tempat tidurku sambil memejamkan mata merindukan kasur yang sehari tidak kutemui:’-)))) lebay banget emang. Abis itu seperti biasa aku main handphone, dan malamnya setelah semua orang pulang -kami pulang dengan menggunakan mobil abi dan mereka sempat singgah di rumah sebentar, aku mengerjakan tugas bahasa inggris yang terbengkalai dengan kerja keras karena tugas bahasa inggrisnya luar biasa banyak dan panjang. Bahkan aku gabisa menyelesaikan semuanya dalam semalam dan harus menyisakan cukup banyak untuk kukerjakan hari ini, dan untungnya sewaktu aku mengetik ini, seluruh tugas bahasa inggrisku sudah kukerjakan semua.

Mau beberes rumah dulu owkay. Bubay.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s