resensi dan soal pajak penulis [lagi]

Morning peeps! Hari ini mungkin aku akan membuat dua artikel, satu resensi sebuah buku yang merupakan salah satu pemenang Gold Medal Smarties Prize dan ditulis oleh Philip Pullman, The Firework-Maker’s Daughter yang berarti Putri Si Pembuat Kembang Api.

Sebelumnya aku akan menjelaskan sedikit tentang latar belakang Philip Pullman.

Beliau lahir pada tanggal 19 Oktober pada tahun 1964 di Norwich, Inggris. Masa kecilnya dihabiskan di kapal, sebab ayah kandung dan ayah tirinya merupakan anggota Angkatan Udara Inggris sehingga hal itu membuat keluarganya bisa dibilang harus dan selalu mengikuti mereka ke berbagai penjuru dunia dengan kapal.

Philip Pullman kuliah di jurusan Sastra Inggris di Universitas Oxford dan sempat lama menjadi guru sebelum menjadi penulis fulltime. Philip Pullman adalah salah satu pengarang terbaik di dunia yang mengarang banyak cerita anak-anak yang memperoleh beberapa penghargaan untuk beberapa diantaranya.

Beliau tinggal di Oxford, sudah menikah dengan seorang bernama Judith Speller dan hidup bahagia bersama kedua anak lelakinya.

Tadi aku sempat scrolling di bagian berita Philip Pullman, tepatnya di situs berita internasional untuk cabang Indonesia CNN Indonesia, yang memaparkan kalau tak hanya penulis di Indonesia sajalah yang terpuruk. Disampaikan oleh Philip Pullman, kalau penulis disana juga merasakan hal yang sama.

Aku sudah pernah menulis artikel yang khusus membahas pajak penulis yang ditengarai tidak diatur dengan adil oleh pemerintah. Check this out!

Laporan tahun lalu menyebut bahwa penghasilan rata-rata untuk penulis di Inggris adalah 12.500 poundsterling, atau 222 juta rupiah. Angka itu masih dibawah upah minimum daerah itu. Itu karena perusahaan-perusahaan dagang besar seperti Amazon dan Highstreet berlomba-lomba menjual buku dengan harga serendah mungkin; yang membuat nasib dan penghasilan penulis disana ikut terpuruk. Jadi ngerasa awkward sendiri, soalnya aku sendirinya suka ngomel kalau ada buku yang harganya terlalu mahal. Jadi bertekad mulai saat ini nggak mengeluh apapun tentang harga buku ;-;

Baca potongan artikel berikut:

“Ada banyak hal yang harus diperhatikan sekarang, tidak terkecuali adalah jatuhnya penghasilan bagi orang-orang yang menggantungkan hidupnya pada menulis buku,” katanya.

Pullman mengakui, ia tidak termasuk golongan itu. Menurutnya, ia beruntung karena termasuk golongan penulis sukses. Namun tak dipungkiri, banyak rekannya yang berjuang keras.

“Teman-teman saya yang 10, 15 atau 20 tahun lalu, sebelum Net Book Agreement, yang saat itu bisa mendapat penghasilan dari menulis buku, dan menjual cukup banyak kopinya ke perpustakaan, mereka tidak bisa melakukannya lagi,” kata Pullman mengungkapkan.

Penyebabnya adalah semakin banyaknya penjual buku besar dan penjual buku di internet.

“Mereka [melakukan hal-hal] yang baik buat pembaca, tapi tidak selalu baik untuk penulis.”

Net Book Agreement menjamin buku-buku dijual di harga yang paten. Namun itu terjadi hanya sampai 1990-an. Setelah tak lagi ada kesepakatan itu, penjual buku online, supermarket dan toko-toko jaringan yang besar bisa menjual buku dengan diskon. Pembeli jelas senang.

Tapi masalahnya, royalti penulis dipotong dari harga diskon, bukan harga aslinya.

Pullman sendiri baru saja meluncurkan novel baru, La Belle Sauvage. Itu merupakan prekuel dari novel pria 71 tahun itu, His Dark Materials yang diterbitkan pada 2000 lalu.

Novel itu digadang-gadang akan mendapatkan penjualan terbesar tahun ini. Penggemar sudah menunggunya sejak 17 tahun lalu. Buku itu ternyata telah ditulis oleh Pullman sejak lama.

Namun, karena sedang sakit dan harus operasi, ia sedikit menunda penerbitan bukunya.

“Inilah salah satu alasan mengapa buku ini lama muncul, karena cukup sulit untuk bekerja dengan keadaan seperti itu. Saya merasa seperti terbatas dan dibatasi, sampai batas tertentu oleh kesehatan saya,” ujarnya saat berbicara di perpustakaan Universitas Oxford.

Bukunya yang terkenal, His Dark Materials merupakan trilogi yang terdiri atas Northern Lights(1995), The Subtle Knife (1997) dan The Amber Spyglass (2000). Trilogi itu, mengutip Telegraph, telah terjuak sebanyak 18 juta kopi dan diterjemahkan ke 40 bahasa. (sas)

(source)

Hm, sekian latar belakang dan secuplik berita mengenai Philip Pullman.

Buku yang tadinya mau kuresensi,  The Firework-Maker’s Daughter, bercerita tentang seorang gadis putri pembuat kembang api bernama Lila yang bercita-cita mengikuti jejak ayahnya menjadi seorang pembuat kembang api.

Lila hanya tinggal bersama ayahnya, dia sudah tidak mempunyai ibu dan sehari-hari yang dilakukannya adalah membantu ayahnya untuk membuat kembang api yang kemudian dijual di kota.

Keseharian itu membuatnya sangat menggemari membuat kembang api dan kemudian dia berkata pada ayahnya kalau dia ingin menjadi seorang pembuat kembang api sepertinya.

Ayahnya melarangnya mentah-mentah dan menolak untuk memberitahu langkah terakhir untuk menjadi seorang pembuat kembang api sejati.

Tapi Chulak, sahabat Lila yang merupakan seorang penjaga seekor Gajah Putih istimewa milik kerajaan yang konon bisa berbicara [namun hanya sedikit orang yang tahu keistimewaan ini, yang termasuk Chulak dan Lila seorang], membantu Lila menorek keterangan dari ayahnya.

Dari keterangan yang dikorek Chulak dari ayah Lila, Lalchand, Lila tahu kalau dia harus melakukan sebuah perjalanan berbahaya ke perut Gunung Merapi untuk menghadapi Angkara Api -untuk mendapatkan suatu hal untuk menjadi seorang pembuat kembang api sejati.

Lila memutuskan untuk kabur dari rumah dan pergi melakukan perjalanan berbahaya itu sendirian setelah meninggalkan sebuah pesan untuk ayahnya.

Mengetahui kepergiannya, ayahnya langsung ribut mencari Lila. Dia berkata pada Chulak kalau ada satu hal yang belum Lila ketahui ; dan bisa mengancam hidupnya diwaktu perjalanan nanti.

Chulak dan Hamlet, gajah putih tersebut, akhirnya memutuskan untuk membantu menolong Lila. Mereka kabur dari tempat mereka sedang tinggal dan menyusul Lila ke Gunung Merapi, sembari membawa ‘satu hal’ yang disebut oleh Lalchand harus mereka minta dari seorang dewi danau.

Lila sudah melewati semua perjalanan yang berbahaya dengan kecerdasannya dan sampai di sebuah gua Angkara Api yang panas dan menyeramkan. Untungnya, Chulak dan Hamlet sampai tepat pada waktunya untuk menolong Lila dari ancaman terbakar api.

Setelah menyelesaikan tujuan Lila -yang ternyata zonk tersebut, mereka buru-buru pulang untuk menyelamatkan Lalchand yang kabarnya ditahan oleh Raja karena ditengarai telah membantu Gajah Putih kabur.

Raja membebaskan Lalchand, dengan suatu syarat. Mereka harus memenangkan kompetisi membuat kembang api -dan apakah mereka bakal memenangkannya? Dan masih ada banyak cerita seru lagi yang belum kumasukkan dalam artikel resensi ini ; namun aku berpikir sebaiknya tidak perlu diberi lebih banyak spoiler, karena bakalan ngga asyik waktu kalian baca.

Ehm.

Satu dua tiga awkarin naik kuda, saya bye dulu aja! ; )

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s