Zonk

Halo. Well, sepertinya aku melupakan janjiku untuk membuat sebuah artikel berbahasa Inggris beberapa minggu yang lalu, dan sudah lama juga aku tidak mengupdate tulisan because aku lagi blank mau nulis apa.

So, aku mau cerita. Seminggu yang lalu adalah hari yang sibuk.

Hari itu hari Minggu, dan sejak pagi keluargaku sudah bekerja keras ㅡdari memasak berbagai jenis camilan, keluar membeli atau memesan sesuatu, membereskan rumah ㅡsampai ke detail-detailnya, termasuk mengeluarkan kasur bagian bawah dari kamarku dan mencuci serta menjemurnya. Walaupun sembilan puluh persen yang melakukannya adalah umiku, hehe.

Ada apa dengan hari itu?

Well, keluargaku sedang membangun sebuah rumah di tanah belakang rumah kami. Dan hari itu adalah hari pengecoran rumahnya.

Apa itu pengecoran?

Dari yang kuamati, pengecoran itu adalah memperkuat rumahnya dengan adonan semen yang luar biasa banyak. Pengecoran dilakukan sebelum rumah dibangun dan juga dilakukan setiap dibuat lantai lainnya. Rumah di belakang memang direncanakan oleh abi dan umi akan memiliki dua lantai.

Karena pengecoran adalah sebuah hal yang sulit dan berat, jadi diperlukan berkali-kali lipat tukang dari yang biasa datang ke rumah. Kalau hari-hari biasanya yang datang hanya dua-tiga orang, untuk hari pengecoran ini diperlukan sekitar dua belas orang.

Cara bekerjanya adalah, semen digiling sampai menjadi bubur semen. Kemudian semen tersebut dituang ke dalam ember dan diulur dari bawah ke atas untuk dibeberkan di bagian yang akan dicor. Itu saja yang tertangkap amatanku, karena aku tidak banyak diluar sewaktu itu.

Sebenarnya, aku disuruh untuk keluar dan mengamati dengan detail serta memotret kegiatan pengecoran tersebut, tetapi aku rada sungkan dan takut dengan wajah para tukangnya yang sangar-sangar itu, jadi aku menolak.

Salah satu hal yang tidak kusukai dari acara pengecoran ini adalah suara penggiling semennya. Sebelas dua belaslah dengan suara penggiling beras yang terkadang ㅡtapi jarang sekali terjadiㅡ lewat di jalan depan rumah dan berhenti barang lima belas menit di samping rumah untuk menggiling beras.

Suara penggiling semennya membuatku terpaksa lebih banyak mendengarkan lagu untuk menutupi volume penggiling semen yang lumayan mengganggu tersebut. Tapi kemudian aku memutuskan untuk menutup pintu tengah ; agar suaranya sedikit teredam.

Hari Minggu itu juga umi membereskan rumah dan mengubah beberapa pola barang-barang di dalamnya untuk menyegarkan suasana.

Malamnya, Om Dayat dan keluarganya datang berkunjung.

Heran, perasaan Ata dan Fahri makin lama makin gemuk aja. Beda dengan aku dan kedua saudaraku yang daridulu tetap kurus dan tirus tanpa ada bedanya.

Selama keluarga Om Dayat berkunjung, aku asyik menonton anime di kamar. Mereka pulang jam sembilan malam.

Oh ya, aku sudah pernah bercerita kalau abi belakangan keranjingan masak, bukan? Baru tadi siang abi membuat jenis kue yang lain, setelah semuanya sudah pada bosan dengan kue berbasis buah pisang.

Kue coklat.

Tapi, abi menyebutnya kue rusak karena bentuknya yang berantakan. Tapi rasanya jangan ditanya. Enak banget.

Oh ya, sembilan hari lagi hari spesialku. Pft.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s