Kemah Bareng Anak HS.

Kami berangkat minggu lalu, pada Sabtu pagi.

Where?
Ke sebuah tempat dimana keluarga homeschooling Keluarga Pemberi berkumpul dan berkemah bersama, dan juga tempat penggalang Pramuka kami akan dilantik menjadi penggalang resmi, begitupula dengan kelompok siaga Pramuka Keluarga Pemberi.
Camping ini sudah direncanakan oleh kelompok Pramuka Pemberi sejak lama, yang selain diselenggarakan untuk refreshing, juga dibuat untuk pelantikan para Pramuka untuk menjadi Pramuka resmi.
Kalang kabut benar pagi itu. Harus masak, sarapan, bersiap-siap, menyiapkan ransel yang sudah disiapkan sejak semalam,
Umi tidak ikut berangkat bareng kami, melainkan akan datang menyusul kira-kira sorenya karena harus pergi ke kampus.
Kami berangkat dengan menaiki mobil.
Kami sebelumnya pergi ke check point dulu di minimarket sebelah Masjid Sabilillah untuk mengemas barang-barang. Soalnya, mobil abi memang biasanya digunakan untuk mengangkut barang-barang yang berat juga.
Disana, aku sekalian membeli snack buat di perkemahan nanti.
Setelah itu, tenyata kakakku dan adikku naik angkot bersama keluarga HS yang lain, dan tidak ikut dengan aku dan abi. Mungkin mereka ingin bareng sama teman-teman yang lain. Aku nggak mau ikut karena, yah, nggak ada anak perempuan seumuranku yang ikut perjalanan itu. Remaja perempuan homeschooling di Malang yang seumuranku aja hampir nggak ada, apalagi yang ikut perjalanan ini.
Jadi, aku ikut bareng abi.
Sepanjang perjalanan, aku tertidur dan terbangun saat sampai di tujuan. Aku kan duduk di samping jok sopir, dan ada seorang bapak yang aku lupa siapa melongok untuk berbicara dengan abi. Aku terbangun karenanya dan refleks berkata kaget. Bapak yang tadi membuatku terbangun tertawa dan meminta maaf.
Tempatnya sangat luas, banyak padang hijau bertebaran dan ada semacam penginapan disana.
Ada segerombolan mahasiswa yang juga sedang berada di penginapan tersebut.
Aku menyeret tasku ke dalam area perkemahan dan memandang sekitar.
Beberapa waktu kemudian diisi oleh keluarga-keluarga kami yang sibuk membangun tenda. Sementara anak-anak remaja Penggalang diajari oleh Kak Totok, Kak Gatot dan Kak Yuli cara membangun tenda yang nantinya akan ditempati oleh anak-anak Penggalang sekaligus Siaga.
Setelah diajari cara membangun satu tenda, kami kemudian membangun tenda keduanya tanpa bantuan pembina. Hasilnya lumayan bagus.
Setelah membangun tenda, kami memasukkan barang-barang masing-masing ke dalam tenda. Sehabis itu aku masuk ke dalam tenda keluarga yang bukan tenda untuk anak-anak, melainkan untuk ditempati oleh masing-masing keluarga. Aku ngemil kacang dan permen mint di dalam sambil tiduran dan membaca buku Pulang oleh Tere Liye yang sudah berkali-kali kubaca tapi gak pernah bosan bacanya karena bukunya memang seru asli.
Tak lama, hujan turun. Aku yang lagi asyik ngemil gak begitu memedulikan hujan yang turun tersebut. Makin lama hujan semakin deras dan tenda tempatku tiduran mulai bocor. Air hujan masuk secara perlahan dan mengembun membasahi bagian dalam tenda.
Kemudian, aku tertidur. Cukup lama sampai terbangun lagi karena keributan yang terjadi di luar tenda, di area perkemahan. Hujan masih turun dengan cukup deras.
Kukira sedang ada apa, ternyata tenda-tenda untuk anak Penggalang dan Siaga kebanjiran. Saat aku mengecek, airnya menggenang sampai mata kaki. Semua orang sibuk mengevakuasi barang-barang dan menyelamatkannya ke mess penginapan.
Masih setengah mengantuk, aku balik ke tenda lagi dan kembali tertidur.
Sorenya aku terbangun mendapati abi sudah pergi menjemput umi, dan ternyata kakakku juga ikut bersamanya. Tau begitu aku nggak tidur tadi dan ikutan pulang dulu ;-;
Soalnya saat bangun rasanya capek banget. Tubuh setengah basah karena air yang jatuh mengembun membasahi tenda, keadaan badan yang compang-camping dan belum mandi sebagai plus, dan kebetulan waktu itu aku juga sedang mens.
Tapi intinya kemudian setelah bangun, aku pergi ke mess penginapan menyeret tasku dan pergi ke kamar perempuan. Aku melongok dan bertanya,
“Mandinya disini?” dan ibu-ibu yang berada di dalam mengiyakan.
Aku segera pergi mandi dan keluar lagi menyeret ranselku. Soalnya, rupanya, kamar untuk anak-anak perempuan terpisah dari situ. Kamar yang kugunakan untuk mandi tadi merupakan kamar untuk ibu-ibu.
Sekamar sama anak-anak seperti mereka itu gak gampang. Kamar selalu ramai terus dan berantakan. Aku yang sedikit bersifat perfeksionis berusaha sabar dengan frekuensi berantakan kamar sewaktu itu :—))))
Waktu itu, aku belum tahu kalau kakakku ikut pulang bareng abi. Kirain cuma abi doang yang pergi. Tapi ternyata mas Azmi turut pergi bersama Abi. Tau gitu, aku juga ikut pulang tadi. Sayang ketiduran.
Tapi ada senangnya juga aku gak ikutan pulang. Soalnya, malemnya lumayan seru.
Oh ya, siang atau sorenya -aku membantu ibu-ibu memasak di dapur umum. Lebih banyak membantu Bu Farida memotongi sayur mayur, dan aku menyukai pekerjaan itu karena vibes waktu sayurannya dipotong bikin merasakan sedikit rasa puas gitu entah kenapa.
Anak-anak penggalang disuruh kumpul di lapangan, dan kemudian anak-anak Siaga terutama rombongan anak cewek menyusul.
Katanya sih jurit malam. Tapi serius, jurit malamnya gak ada seru-serunya.
Jadi setelah berkumpul, Kak Totok dan Kak Gatot mengumumkan kalau siapapun yang berani boleh ikut, diutamakan anak Penggalang. Awalnya kulihat Keni ikut mengangkat tangan, tapi karena rombongan cewenya yang lain gak ada yang berani ikut membuatnya nurunin tangan lagi. Lagi-lagi aku jadi peserta cewek sendiri.
Sedikit sekali anak homeschooling seumuranku di Malang, apalagi yang perempuan. Sudah kaya nyari jarum di jerami. Diantara anak-anak Penggalang Pramuka saja, yang perempuan hanya aku. Hedeeeh.
Kuulangi lagi, jurit malam malam itu sama sekali nggak serem. Walau begitu, Raka memutuskan untuk nggak ikutan. Katanya dia takut.. Padahal to be honest kami cuma berjalan bareng selama satu kilometer dan kemudian balik lagi sendiri-sendiri, tapi masih berdekatan. Apa seramnya?
Sewaktu balik ke perkemahan dari spot tempat kami berhenti di pohon beringin besar satu kilometer dari tempat perkemahan, kami malah main kejar-kejaran. Soalnya Radit dan Reihan jalannya lambat banget udah kaya siput terbang, dan Farrel yang jalan di belakangku malah kecepetan. Akhirnya malah berakhir aku, Farrel dan Salim menyusul Radit dan Reihan, main salip-salipan.
Di tengah jalan sewaktu kami masih saling berkejaran, ada mobil datang dan seolah melambatkan kecepatannya seakan hendak menabrak di belakang kami. Aku langsung mengenali mobil tersebut sebagai mobil milik abiku. ( :
Tingkah abiku memang kaya gitu kadang kalau naik motor bersamaku dan Mas Azmi, motornya sengaja pura-pura ditabrakkan ke sudut jalan -sebelum kemudian dibelokkan ke sudut yang lain.
Aku berlari mendekati jendela dan nyengir.
“Umi, aku numpang sampai perkemahan ya,” kelakarku.
“Curang!” seru Farrel tak terima.
Tentu saja aku nggak diizinkan buat ikut numpang. Setengah mati kecapaian dan kehausan, aku berlari lagi dan sampai sebagai yang kedua sampai di tempat perkemahan dengan keadaan tubuh luar biasa capek dan haus. Jelas, aku sudah dari beberapa jam yang lalu belum minum.
Aku pergi ke kamar anak cewek dan menemukan kamar kosong melompong. Ternyata mereka sedang berada di kamar sebelahnya, mendengarkan dongeng dari Pak Ale, ayahnya Aisy. Aku kembali menyusul umi dan meminta minum. Tapi karena umi tidak bawa, akhirnya aku mengambil salah satu jeruk yang umi berikan padaku untuk ditaruh di dapur umum dan memakannya. Lumayan buat menghilangkan haus.
Setelah semua orang sudah sampai di lapangan, kakak pembina menyuruh kami semua untuk berkumpul lagi.

Aku seolah,
“Loh? Kirain sudah bubaran.”
Tapi ternyata kami belum bubar dan masih akan menyalakan api unggun. Seorang bapak membawa seikat besar kayu bakar yang tampak agak lembap setelah hujan deras semalam.
Untuk menyalakan api di kayu bakar yang agak lembap itu butuh kesabaran dan kerja keras.
Awalnya kukira api unggun itu tidak bakalan menyala dan kami tidak jadi menyalakan api unggun, tapi ternyata para bapak sangat antusias menyalakan api unggun. Setelah mencoba menggunakan sebotol penuh spiritus dan belum berhasil tepatnya apinya dengan perlahan redup kembali, seorang bapak berwajah kalem muncul dengan membawa sebuah uh-aku nggak tahu namanya, tapi paling tidak aku bisa mendeskripsikan bentuknya.
Bentuknya seperti senapan panjang dan kalau pelatuknya ditarik, bukan peluru yang keluar, melainkan api. Biasanya benda ini digunakan untuk memancing api keluar dari kompor gas yang sedikit rusak dan kalau mau menyala, apinya harus dipancing terlebih dahulu.
Setelah lima sampai sepuluh menit tumpukan kayu bakar tersebut disemproti oleh api menggunakan semacam senapan tersebut, akhirnya api mulai menyala dan nyalanya bukan yang akan menyala kemudian redup, tapi menyala dan akan terus membesar apinya.
Finally, apinya benar-benar menyala. Sebagian orang malah harus mundur karena panas yang menguar dari api unggun besar tersebut.
Setelah itu, kami mulai memainkan beberapa game yang juga sering dimainkan oleh anak pramuka di hari-hari Rabu sebelumnya. Bedanya dengan pada malam itu, kami memainkan game tersebut berbarengan dengan orangtua. Nama game tersebut adalah 3 8. Caranya, kami akan bergantian menyebut angka-angka mulai dari satu, dan kalau sampai ke angka yang ada 3 atau 8nya, tidak boleh mengucapkan angkanya, melainkan diganti dengan cara bertepuk.
Konon belum ada yang bisa menyelesaikan game ini lebih dari angka 40. Bahkan kata Kak Totok atau kak Gatot, satu-satunya yang bisa menyelesaikan game ini sampai 40 setahu mereka hanya sebuah kelompok mahasiswa di sebuah universitas yang aku lupa namanya. . .
Setelah game selesai dan waktu semakin larut, kakak pembina menyuruh kami untuk bubaran dan tidur karena besok kami harus bangun pagi dan menggunakan tenaga untuk hiking mendaki bukit.
Kamar yang kutempati malam itu sangat ramai. Bagaimana tidak, mana mungkin kamar yang ditempati sekitar delapan anak cewek dalam masa golden yearsnya, masa-masa mereka seperti bebek berquack-quack tidak akan berbuat ramai saat mereka menginap. Apalagi ini bukan pertama kalinya mereka menginap bersama-sama.
Saking ramainya, sampai jam sepuluh lewat, kami belum bisa tidur. Aku yang berusaha mencoba tidur selalu gagal karena kericuhan para bocah petualang tersebut. Tapi sebetulnya kami tidak tahu kalau itu sudah menginjak jam sepuluh malam, sebelum seorang ibu datang mendengar suara kami dan menengok kamar kami, mengingatkan untuk tidur karena sudah jam sepuluh lewat. Setelah itu sebagian anak mencoba untuk tidur, termasuk aku.
E e et, jangan kira gampang menyuruh anak-anak bandel seperti mereka untuk tidur. 5 detik berlalu dan kamar kembali riuh lagi. Dan aku memutuskan untuk mengambil tindakan tegas.
Beranjak dan duduk di kasur dengan rambut berantakan, berkata,
“Bisa tolong diam nggak? Ini yang lain sedang berusaha buat tidur, tapi kalian ramai begini, mereka jadi gak bisa tidur. Tolong belajar ngehargai orang lain, dong.” Setelah mengeluarkan serentetan kata kejam menusuk yang langsung membuat anak-anak itu diam seribu bahasa. Mungkin mereka takut dengan jurus shikage no jutsu apalahku yang bisa bikin kamar yang tadinya ramai jadi hening dalam sekejap.
Paginya, aku bangun kesiangan. Anak-anak yang lain sudah pada bangun dan mulai ribut kembali dan tampaknya sudah melupakan jurusku semalam. Sementara hari mulai terang, aku bangun, merenggangkan tubuh sedikit dan membersihkan muka, lalu mengenakan kerudung dan keluar kamar.
Lebih tepatnya aku pergi ke dapur umum. Dan seperti stupid people aku duduk di salah satu kursi disana dan mengedarkan pandangan ke sekeliling dapur.
Tapi itu tak lama, kemudian aku duduk di bawah juga dan membantu ibu-ibu memasak. Tak banyak sih, kemudian entah kemana aku pergi.
Intinya, sehabis sarapan, kami disuruh untuk senam pagi bersama kakak pembina sebelum berangkat hiking.
Sebenarnya, hiking ini untuk pelantikan kami sebagai pramuka resmi di suatu tempat di atas bukit sana. Tapi karena kemarin hujan, tidak ada satupun dari kami yang mengenakan seragam pramuka. Basah semua. ;            ;
Jadi, ini bisa dianggap sebagai sebuah pelantikan resmi yang dilakukan agak asal-asalan, karena selain pada memakai baju rumahan dan sebagian juga mengenakan sendal jepit, termasuk aku karena sepatuku sedang basah 😦
To be continued.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s