Wonder dan 2018

Bertamu lagi.

Bertemu ding.

Sebelumnya aku ingin meminta maaf bila ada kesalahan atau terlalu banyak spoiler yang kututurkan disini. Dan mungkin aku lebih mendasarkan review ini dari bukunya, karena aku lebih mengingat plot yang kubaca di buku disbanding yang kutonton di bioskop.

Jadi, aku datang hendak  mereview sebuah film yang kutonton di bioskop beberapa hari yang lalu. Lebih tepatnya, film itu berjudul Wonder. Sebuah film inspiratif yang diangkat dari buku, dan honestly, bukunya sudah kupunyai sejak kurang leih setahun yang lalu. Dan, Wonder adalah salah satu buku favoritku. I literally crying after reading the book, and definitely the movie.

Aku baru tahu kalau Wonder diangkat menjadi film dua hari sebelum menontonnya di bioskop, and myself is indeed surprised. Langsung kuserbu Google untuk mencari trailernya dan jadwal bioskop di Malang. Unfortunately, film ini sudah tayang sejak Desember, dan hampir semua bioskop di Malang sudah tidak menayangkannya lagi, kecuali Sarinah.

Dan bioskop yang satu ini adalah bioskop eksekutif, dan harga tiketnya sangatlah mahal.

Tapi untungnya orangtuaku mengizinkanku untuk menonton Wonder dan membayarkan tiketnya juga, hehe.

Wonder bercerita tentang seorang anak yang mempunyai kekurangan dibagian wajahnya, bernama August Pullman atau biasa dipanggil Auggie. Terlepas dari kekurangan-kekurangan yang mungkin akan membuatmu bergidik atau semacamnya saat melihatnya, dia adalah anak yang cerdas. Semua pelajaran dikuasainya, biarpun dia semenjak kecil hanya bersekolah di rumah ditemani keluarganya.

Belakangan, dia dimasukkan ke sekolah menengah oleh keluarganya, untuk belajar bersosialisasi dan tidak terus menerus di rumah.

Sebelum resmi masuk, Auggie meminta untuk mencoba melihat-lihat sekolahnya terlebih dahulu.

Mereka bertemu dengan kepala sekolah dan tiga anak yang dimintai tolong oleh kepala sekolah untuk menemani Auggie berkeliling. Justin, Charlotte dan Jack Will.

Sayangnya, sebenarnya Justin adalah salah satu anak terlicik di sekolah dan juga anak dari kaum elite yang juga dewan sekolah. Meanwhile Charlotte like to nagging and  tells everyone anything about herself. Sementara Jack, dia hanya siswa biasa yang luarnya mungkin terlihat bandel dan semacamnya, namun sebenarnya dia berhati baik.

Auggie tahu kalau Justin sudah menganggap remeh dirinya dari awal, dengan bergaya seperti anak baik di depan orangtuanya dan kepala sekolah namun menganggapnya tidak tahu apa itu penghapus saat menemaninya berkeliling sekolah bersama Charlotte dan Jack.

Namun dia tetap setuju untuk pergi ke sekolah, dikarenakan laboratorium sains di sekolah itu menarik perhatiannya.

Hari pertama, dia diantar oleh seluruh keluarganya. Kakaknya Olivia melepasnya dengan pesan sayang dan papanya mengantar sampai ke gerbang sekolah sementara mamanya memandang dengan haru.

“Jangan mengangkat tangan terlalu banyak dalam pelajaran. Cukup angkat tangan satu kali saja dalam satu pelajaran. Tapi tidak dengan sains. Kuasai sains, angkat tangan sebanyak mungkin. Buat mereka kagum.” bisik papanya sambil tersenyum nakal.

Auggie mengangguk. “Siap, kapten.”

Seperti yang sudah Auggie duga, semua anak memandangi wajahnya dan langsung menjauh begitu dia berjalan mendekat seakan dia mempunyai sebuah penyakit menular. Auggie berjalan menunduk setengah tak peduli, dia sudah terbiasa dengan orang-orang menjauhinya dan telah menemukan jalan keluarnya, yakni berjalan dengan kepala menunduk.

Hari-hari pertama Auggie nggak bisa dibilang enak dengan anak-anak yang menghindarinya dan berusaha mencari kursi terjauh dari kursi yang diduduki Auggie, dan dia makan sendirian.

Sampai suatu hari, sedang ulangan di kelas Auggie. Kebetulan, Auggie sebangku dengan Jack. Dia melihat Jack tampak kesusahan mengerjakan  ulangan tersebut. Auggie menganggap kalau Jack adalah salah satu yang bersikap lumayan baik dengannya dan dia memutuskan untuk membantu Jack. Dia mengintip guru yang sedang duduk mengecek berkas di mejanya dan kemudian menyikut Jack, berbisik menyuruhnya untuk mencontek hasil ulangannya yang sudah selesai.

Bagian ini jangan ditiru, ya.

Jack nyengir dan segera menyontek hasil ulangan Auggie.

Sewaktu makan siang, Jack yang biasanya duduk dengan Julian dan teman-temannya menatap Auggie yang sedang makan sendirian dari jauh. Dia menggigit bibir, memikirkan sesuatu selama beberapa saat, kemudian dia pergi menghampiri Auggie membawa nampannya, mengabaikan panggilan Julian yang bingung kenapa dia pergi menjauh dan tidak duduk semeja dengannya.

Sejak itu, Auggie dan Jack jadi teman baik. Bahkan Jack beberapa kali pergi ke rumah Auggie dan mereka mengerjakan PR dan bermain bersama. Yang kocak, aku lihat mereka senang bermain Minecraft. Sebagai seorang former Minecraft player, aku bangga karena juga pernah memainkan game yang sekarang mereka mainkan.

Bagian ini abaikan saja.

Intinya, mereka sudah menjadi sahabat dekat. Sampai ketika hari Halloween pada 18 Oktober, Auggie pergi dengan kostum Bleeding Scream ke sekolah. Dia sengaja menggunakan itu, padahal sebelumnya dia berkata pada Jack kalau dia akan menggunakan kostum lain.

Sesampainya di kelas, Auggie hendak menyapa Jack yang sedang duduk bersama Julian dan teman-temannya, sampai dia mendengar percakapan mereka. Jack mengenakan sebuah kostum mumi.

“Kenapa kau mau bepergian bersama Auggie itu?” suara Julian sinis. Si mumi menoleh kesekitar seolah memastikan tidak ada orang, kemudian dia berpaling lagi pada Julian. Dia tak menyadari bahwa Bleeding Scream yang berdiri di dekatnya adalah Auggie.

“Mr. Tushman menyuruhku dan aku terpaksa melakukannya, dan sejak itu dia selalu mengikutiku terus,” jawab Jack dengan nada meremehkan.

Hati Auggie seakan hancur lebur, sehabis mengetahui kalau dia ternyata dikhianati oleh orang yang telah dianggapnya sahabat sendiri.

Setelah kejadian itu, Auggie tidak masuk sekolah sampai beberapa hari. Dan setelah masuk, dia mengabaikan Jack dan bersikap dingin terhadap Jack. Jack yang tidak tahu kesalahannya sendiri tidak bisa melakukan apa-apa. Setiap dia bertanya tentang kesalahannya pada Auggie, Auggie tidak menjawab dan langsung menjauhi Jack.

Auggie mendapatkan teman baru, bernama Summer. Summer menghampirinya di meja makan dan mengajaknya mengobrol karena dia tertarik dengan Auggie. Padahal, seperti Jack, sebenarnya Summer adalah salah satu bagian dari lingkaran anak popular di sekolah. Awalnya Auggie tidak menerima permintaan pertemanan tulus Summer karena dia pikir Mr. Tushman, kepala sekolah, juga menyuruh Summer untuk berteman dengannya, tapi setelah mendengar sumpah Summer bahwa Mr. Tushman tidak menyuruhnya dan tidak ada satu orangpun yang menyuruhnya, dia pun melunak.

Jack yang kebingungan memutuskan untuk bertanya kepada Summer kenapa Auggie menghindari Jack selama beberapa minggu. Summer yang sudah berjanji pada Auggie untuk tidak menceritakannya pada siapapun bergeming, namun karena kasihan, dia akhirnya membisikkan sebuah clue: Bleeding Scream.

Pikiran Jack langsung terhubung dengan anak yang mengenakan kostum Bleeding Scream di Halloween. Dia langsung mengeluh.

Aku nggak akan cerita bagaimana cara Jack dan Auggie berbaikan kembali, intinya mereka kemudian berbaikan melalui Minecraft. Namun kalau di bukunya, mereka berbaikan melalui hubungan SMS.

Lambat laun, kehidupan Auggie makin tenang. Sudah banyak anak yang terbiasa dengannya bahkan tidak menganggapnya sebagai wabah kembali, dan mau berteman dengannya. Mungkin yang masih bersikap jahat dengannya hanya Justin dan sedikit gerombolannya yang masih rajin mengirimkan surat-surat ancaman ke mejanya dan meja Jack.

Menjelang ending, ada sebuah acara studytrip yang diadakan beberapa sekolah serempak. Disana, Jack dan Auggie sekali pergi ke hutan saat bosan menonton film Narnia yang kata Jack bisa mereka tonton kapan saja. Tiba-tiba ada sekelompok anak yang muncul di belakang mereka, dan tubuh mereka besar seperti anak sekolah menengah atas. Mereka bertanya apa yang mereka lakukan di hutan tersebut, lalu salah seorang cewek diantaranya mendadak menjerit.

“A- Apa yang terjadi dengan wajahnya?” dia menunjuk wajah Auggie.

Jack mengerang, lalu menarik tangan Auggie menjauhi mereka.

“Whoa, whoa, jangan pergi dulu! Jawab pertanyaan kami,” seorang cowok tinggi bertubuh besar menghalangi jalan mereka.

Intinya, mereka kemudian berkelahi dan tak disangka, Amos, Henry, dan satu anak lagi yang aku lupa namanya membantu Auggie dan Jack kabur dari sekumpulan anak sekolah menengah keatas itu dengan susah payah. Padahal, Amos, Henry dan satu lagi ini adalah salah satu komplotan Julian, yang kebetulan waktu itu diskors sehingga tidak bisa mengikuti studytrip. Namun kalau di versi bukunya, Julian memang tidak menyukai studytrip jadi dia tidak ikut di dalamnya.

Overall, Wonder ini salah satu film terbagus yang kutonton di 2017. Mungkin bisa jadi  yang terbagus. Plotnya yang menyenangkan, idenya yang bagus karena diangkat dari sebuah buku bestseller, dan angle ceritanya juga menarik.

Omong-omong, ini post pertamaku di 2018, ya.

Berhubung ini post pertamaku di 2018, aku mau membicarakan resolusiku. Resolusiku di 2018 adalah bisa hafal semua teknik dan rumus matematika di luar kepala, paling nggak bisa menyelesaikan satu novel dan bisa rutin mengirim artikel ke koran.

Eit, sebelum itu selesaikan dulu tugas-tugasmu, Mbak. Hedeh. ☺️

Yaudah, dadah? 😜

One thought on “Wonder dan 2018

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s