Visiting Pocari Sweat;

2 March, 2018—

Hari ini, aku mendapatkan sebuah pengalaman baru. Rekreasi sekaligus belajar dalam sebuah pabrik minuman penambah ion sekaligus penyegar yang tak mungkin tidak ada orang yang tidak mengetahui keberadaannya, Pocari Sweat. Kami pergi ke salah satu pabriknya yang berdiri di Lawang. Rombongan didominasi oleh anggota kelompok Pemberi (pembelajar mandiri, komunitas homeschooler  Malang ditambah dengan keluarga homeschooler dari Surabaya datang yang bergabung langsung di lokasi.

Para praktisi homeschooling dari Malang, Surabaya dan sekitarnya beberapa kali mengadakan kegiatan bersama, seperti fieldtrip, bincang-bincang HS, camping dan lain-lain. Walaupun sejujurnya aku tidak begitu akrab dengan mereka, karena kami tidak begitu sering bertemu.

Berbeda dari biasanya, tulisan ini tidak sepenuhnya kubuat menceritakan pengalamanku rekreasi hari Kamis ini, namun melainkan hanya menceritakan detail bagian pabrik dan perusahaan Otsuka karena aku ingin membuatnya menjadi sebuah liputan yang menjelaskan lebih banyak tentang bagian yang diliput. Make sure to enjoy this article with a bottle of Pocari Sweat and a piece of Soyjoy.

( artikel ini tidak dipromosikan siapapun. )

***

Bangunan pabrik dengan tulisan Pocari Sweat besar di dindingnya tersebut tampak megah. Dengan luas lima kali lapangan bola, dan sebuah lapangan bola besar di samping bangunan pabrik itu, lingkungan pabrik tersebut tampak elegan dan bersih. Seperti yang sudah kuduga dari pabrik pembuat minuman pengganti ion ini, tempatnya ternyata sangat bersih dan higienis.

Bangunannya berwarna putih dan biru, dan lapangannya berwarna hijau subur dengan sejumlah pohon yang menghiasi. Pembimbing mengatur rombongan kami untuk berbaris, dibantu oleh satpam yang menjaga. Kemudian seorang dari pabrik dengan toa besar di tangannya mengajak kami untuk naik ke atas semacam kereta besar yang berbentuk seperti tangga dan memiliki roda, untuk berpose diatasnya dan kemudian difoto.

Setelah itu, kami mulai masuk ke dalam bangunan. Sehabis merasakan suasana yang sangat panas karena disebabkan oleh matahari terik di luar rumah, bagian dalam pabrik terasa dingin dan sejuk, membuat beberapa dari kami, termasuk aku, mendesah lega.

Di kedua sisi bagian dalam pintu bangunan, terdapat semacam kolam kecil. Tidak terlihat ada ikan di dalamnya, tapi aku tahu kalau kolam tersebut adalah kolam ikan setelah melihat foto kolam yang sama penuh dengan ikan yang berenang-renang di dalamnya dalam sebuah slide presentasi pabrik nantinya.

Rombongan kami datang tepat saat rombongan sebelumnya mulai turun dari lantai dua. Resepsionis membagikan pada kami masing-masing sebuah pin berlogo Pocari Sweat setelah rombongan tersebut benar-benar pergi. Aku mengedarkan pandangan dan menemukan bahwa tempat itu benar-benar bersih. Sebutannya seakan tidak ada setitik noda pun di dinding maupun lantai, walaupun itu adalah welcoming hall.

Pembimbing dari pabrik mengajak kami untuk naik ke lantai atas. Di sana, terdapat beberapa buah sofa lengkung panjang dan maket berukuran besar tentang susunan bangunan pabrik tersebut. Dari yang kulihat, ada sebuah bentuk maket lapangan di samping gedung yang diberi tanda ‘Future’. Dari yang kuperkirakan, mungkin lapangan tersebut direncanakan untuk dijadikan pembangunan bangunan berikutnya di masa depan.

Ada sebuah kejutan. Seorang kakak berseragam biru membagikan botol-botol Pocari Sweat ukuran medium dari sebuah vending machine yang ada. Aku mengamati vending machine tersebut beberapa saat dan mataku hanya tertuju pada tulisan harga pada layar kacanya yang bukan menunjukkan nominal harga dalam rupiah, melainkan yen.

Sungguh suatu kebetulan bahwa tadi pagi aku baru saja membuka website perbandingan harga antara yen dan rupiah.

Kami diberitahu bahwa di perjalanan mengelilingi pabrik nanti, termasuk saat di hall tempat pembimbing dari pabrik akan menunjukkan video dan animasi pabrik Pocari Sweat ini, kami tidak boleh makan atau minum apapun, termasuk minuman Pocari yang diberikan tadi. Mungkin untuk menjaga agar tidak ada apapun yang tumpah dan membuat kotor hall tersebut.

Kami berjalan sebentar menyusuri koridor dan sampai di sebuah hall. Modelnya seperti kelas-kelas kuliah di kampus internasional. Kursinya berbentuk tangga panjang yang berderet dan ada bantal kecil untuk alas-alas duduknya. Seorang kakak lelaki berwajah ramah yang mengenalkan dirinya sebagai Kak Didik membimbing kami dalam hall tersebut.

Ada dua video yang ditontonkan saat kami duduk di hall tersebut. Mengenalkan bagaimana cara Pocari Sweat dibuat, pengepakannya, dan berbagai macam hal lainnya. Termasuk sejarah Otsuka, perusahaan dibalik suksesnya Pocari Sweat ini, dan juga yang menghandle pembuatan Soyjoy, salah satu produk mereka yang terbuat dari rendah lemak dan tentunya juga menyehatkan karena bagus untuk menghindari diabetes.

Otsuka adalah nama marga pendiri perusahaan ini, lebih tepatnya bernama Ochihiro Otsuka. Seperti perusahaan-perusahaan besar lainnya, begitu pemegang perusahaan meninggal, hak atas perusahaan dipegang oleh anaknya. Otsuka terdiri dari empat generasi sejak 1921 dan sekarang dipegang oleh anak dari cicit beliau, Machihiro Otsuka.

Aku lupa mengatakan bahwa semua pabrik mereka menggunakan mesin sebagai alat dasarnya. Seluruh pembuatan Pocari Sweat, termasuk dari pembuatan botol, pengepakan sampai pemberi label, semua dilakukan oleh mesin canggih yang kutaksir mungkin harganya bisa mencapai jutaan dolar.

Dan kini aku akan menceritakan bagaimana Pocari Sweat dibuat.

Aku menyusunnya dari slide presentasi yang kutonton dan saat kami menyusuri koridor, mengikuti seorang kakak perempuan berkerudung hitam yang menjelaskan sambil menunjuk ke dalam tempat-tempat yang bisa kami lihat langsung menembus kaca. Walaupun sayangnya, saat kami berkunjung, sedang ada maintenance sehingga kami hanya bisa melihat mesin-mesinnya saja. Tidak ada pekerja yang mengawasi jalannya mesin dan otomatis mesinnya juga tidak ada yang berjalan.

Resin, yang merupakan nama lain dari bijih plastik, sebelumnya dipanaskan dalam mesin khusus sebelum dicetak menjadi bakal botol. Bakal botol ini belum berbentuk botol pada umumnya, bentuknya kecil dan lonjong. Mengingatkanku kepada salah satu bekam yang dahulu dipunyai oleh orangtuaku.

Bakal botol ini kemudian ditiup oleh mesin sehingga berbentuk botol Pocari Sweat pada umumnya. Setelah ditiup, kemudian melewati proses filling and capping. Mengisi botolnya satu persatu dengan cepat dan tangkas menggunakan mesin dengan Pocari Sweat, dan setetes zat khusus yang membuatnya lebih kuat dan tahan tekanan sebelum menutupnya dengan tutup botol.

Botol ini akan melewati proses kelayakan dan quality control terlebih dahulu, mengecek apakah tutupnya sudah terpasang dengan sempurna dan apakah botolnya akan tahan tekanan saat proses pengepakan dan distribusinya nanti. Bila ada botol yang tidak sempurna terdeteksi oleh mesin quality control, tutur Kak Didik, botol itu otomatis akan langsung dibuang.

Barulah setelah itu proses pengepakan. Botol-botol otomatis dimasukkan ke dalam bakal kardus, dan tangan-tangan mesin cekatan menyusun mereka sampai menjadi tertutup rapat. Kardus-kardus itu akan disimpan selama kurang lebih seminggu dalam sebuah gudang raksasa sebelum didistribusikan ke seluruh penjuru Indonesia, Asia Tenggara, sampai Arab Saudi.

Gudang raksasa itu tampak dibalik kaca, sehingga kami semua bisa melihatnya. Aku berdecak kagum melihat banyaknya kardus Pocari Sweat di dalamnya. Ada yang bergurau bahwa mungkin ada jutaan botol Pocari di dalamnya. Tapi bila ditilik dari penjelasan Kak Didik tadi, terdapat kurang lebih enam ratus botol dibuat tiap menitnya dalam pabrik itu. Bukan hal yang mengejutkan bila misalnya gudang tersebut berisi jutaan botol Pocari Sweat di dalam gudang tersebut.

Hal lainnya yang mengagumkan dari pabrik tersebut, di koridor sepanjang jalan kakak perempuan itu mengantar kami melihat-lihat isi pabrik, di dinding koridor terdapat gambar-gambaran misi dan visi dan pradigma orang zaman dahulu dan zaman sekarang.

Salah satu gambar yang masih kuingat adalah sebuah gambar pradigma batu. Sebuah pradigma pasaran yang menyebar adalah bahwa semua orang berpikir bahwa batu selamanya adalah benda mati yang akan selalu tenggelam bila dimasukkan ke air. Dan pradigma orang kreatif adalah dengan teknologi, kita bisa membuat batu mengapung bila dibuat semacam tekanan dibawah batu tersebut.

Gambar ini membuatku berpikir lebih dalam tentang pengaruh besar kreativitas, dan betapa kreativitas sangat dibutuhkan untuk kemajuan bangsa.

Perjalanan rekreasi mengelilingi dan menggali pengetahuan lebih dalam di dalam pabrik tersebut selesai. Selepas beristirahat sejenak, kami turun dan disambut oleh pembagian tas-tas kantong berwarna biru dan berlogo Pocari Sweat. Isinya berupa tiga botol Pocari Sweat ukuran medium, seperti yang pertama dibagikan dari dalam vending machine.

Kami menyempatkan untuk berfoto di depan bangunan sebelum pulang. Sebetulnya tidak benar-benar pulang, kami shalat Dzuhur di sebuah masjid beberapa ratus meter dari pabrik dan beristirahat selama kurang lebih setengah jam di sana. Sebagian dari kami menyempatkan untuk makan bekal masing-masing dan tak lupa untuk saling berbagi.

Suasana hari masih terasa panas ketika kami akhirnya menarik diri dari masjid tersebut, satu persatu mobil rombongan mulai keluar dari tempat parkir. Aku semobil lagi dengan abiku, adikku, Aisyah dan Syahla. Kalian nggak akan bisa membayangkan betapa menyenangkannya dalam mobil menjelang petang tersebut, bercanda dan tergelak-gelak.

Sampai di Masjid Sabilillah, sebagian dari kami terutama yang lelaki pergi shalat. Kebetulan saat itu aku sedang berhalangan, jadi tidak ikut shalat.

Tiada perjalanan tanpa tawa. Sepulangnya, aku dan abi mempunyai pertandingan debat sementara ia menyupir. Kami sering melakukan ini, dan aku memang suka berdebat dan mengutarakan pendapat. Perdebatan ini membuat seisi mobil tergelak-gelak dan aku sampai sakit perut.

Hari itu lumayan menyenangkan.

Kusebut lumayan karena kalau kubilang sangat menyenangkan, gengsi man.

 

 

A/N:

Sebenarnya tulisan ini sudah 98% selesai beberapa jam setelah aku pulang dari Pocari Sweat. Namun, harus melewati editing umi terlebih dahulu. Dan editing umi benar-benar membantu, aku menyadari banyak sekali hal yang salah di tulisan awalku. Anyway, long time no see?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s