opinion #1 ; about Facebook, Instagram, and Twitter

Sebagai salah satu pengguna aktif berbagai macam media sosial, bisa dibilang aku sudah banyak mengenal dan memahami sifat-sifat masyarakat media sosial yang beragam. Biarpun tidak sepenuhnya benar, hal-hal yang akan kutuangkan dalam artikel blog ini akan mengupas kelebihan dan kekurangan dari masing-masing masyarakat media sosial yang berbeda-beda.

Pertama, Facebook. Siapa sih yang nggak tahu layanan jejaring sosial yang satu ini? Bisa dikatakan, nyaris semua orang pernah menggunakan Facebook. Ada lebih dari dua miliar manusia yang menggunakan Facebook setiap harinya, dan layanan jejaring sosial terbesar di seluruh dunia.

Bagaimana impressionku mengenai Facebook?

Ada beberapa hal. Salah satunya, yang kutahu adalah Facebook merupakan salah satu tempat yang paling efisien untuk menyebar hoax. Tak bisa dihitung lagi hoax yang sudah tersebar dalam Facebook. Dan… tak bisa dihitung pula jumlah orang alay di dalamnya.

Alay yang kumaksudkan dalam paragraph diatas bukanlah alay dalam bentuk yang pasti pernah kita alami saat pertama kali memainkan Facebook. Melainkan, alay dalam bentuk menulis status galau dan patah hati dengan penambahan titik, koma bawah, angka dan capslock yang mengerikan, juga foto-foto ‘mesra’ anak sekolah dasar.

Overall, Facebook itu sudah seperti media sosial sejuta umat. Hampir semua orang pernah menggunakannya, termasuk aku. Dan walaupun aku tidak pernah merasakannya, mungkin sebagian dari kalian pernah merasakannya: display name Facebook yang dibuat alay seperti Diva ImooOOoetz atau Anis4 Chayank Agung.

Untung saja, sedari awal aku punya Facebook, display nameku selalu normal. Terlepas dari status-statusku yang agak membuatku merasa geli jika membacanya ulang sekarang, aku tidak punya banyak masalah kealayan dalam akun Facebookku.

Masyarakat Facebook, cenderung mudah percaya pada hoax dan orang yang mudah dipengaruhi. Orang memposting artikel hoax di timeline mereka, dilike and share oleh banyak orang, datang dari mulut ke mulut sehingga berakhir lebih kontroversial karena banyak yang percaya. Akun palsu bermuka artis ibukota, memposting sebuah status berisi sesuatu yang berpengaruh, seperti seorang dan menyuruh netizen untuk like share dan comment “Aamiin” pada kolom komentarnya.

Bukannya aku melarang untuk ikut mendoakan siapapun yang ada dalam status itu, tapi bukankah tanpa like share dan comment Aamiin saja kita sebetulnya juga bisa mendoakannya? Bisa dengan hati, lebih baik lagi jika langsung dibantu secara fisik.

Instagram adalah aplikasi media sosial yang kedua.

Impressionku terhadap Instagram tidak begitu bagus, biarpun aku cukup sering menggunakannya. Mengapa? Because, sometimes I feel that Instagram is kinda problematic. Sebenarnya, apa gunanya Instagram selain upload foto-foto ciamik? Foto-foto yang membuat anak remaja sekarang jadi insecure dan anxious dengan apa yang sudah mereka miliki. Posting foto terbagus diantara ratusan foto lainnya. Posting foto membeli baju mahal, mobil baru, rumah baru, pacar baru, seolah sedang memamerkan kekayaan.

Jujur saja, terkadang aku juga merasa anxious dengan penampilanku karena Instagram. Sometimes I think about that, “Kenapa aku nggak secantik mereka? Kenapa penampilanku nggak sekeren mereka? Kenapa aku nggak kayak mereka?” Dan itu berbahaya banget; berbahaya buat kepercayaan diri orang-orang, terutama wanita. Luckily, I have such a happy family. Dan mereka buat aku menyadari betapa sebenarnya aku mencintai mereka dan diriku sendiri.

So, aku nggak begitu insecure lagi dengan penampilanku sekarang.

Walaupun terkadang juga masih, sih…

Masyarakat Instagram mudah terpancing, atau gaulnya mudah triggered. Jika ada postingan yang seolah sedang menyindir agama, suku, ras budaya dan semacamnya, mereka akan marah dan menceramahi sang pengupload tanpa tahu apa sebenarnya.

Misalnya, kemarin Pak Ridwan Kamil, gubernur Bandung, memposting sebuah foto screenshot sebuah post Instagram orang anak laki-laki yang sedang berfoto dengannya. Captionnya kurang lebih seperti ini:

“Foto sama Bowo bayar 80 ribu, foto bareng pak Ridwan Kamil aja gratis.”

Pak Ridwan Kamil merepost foto tersebut dalam akun Instagramnya, ditambah caption:

“Tenang, sama saya gratis, kok.”

Dan apa respon warga Instagram?

Bum. “Pak Ridwan Kamil ini kacang lupa kulitnya, ya? Dulu sering dibantu-bantu Pak Prabowo, sekarang malah merendahkan dan menghina,,,” “Pak Prabowo dihina,, , kurang ajar betul!” dan semacamnya; yang membuatku geleng-geleng kepala. Soalnya, Bowo yang dimaksudkan oleh Pak Ridwan dan anak kecil tersebut adalah seorang artis tiktok yang belakangan ini menjadi cukup tenar. Aku berencana membuat sebuah artikel mengenai dirinya dalam waktu dekat.

Overall, Instagram itu cukup bagus, tapi nggak mendidik. Dan belakangan, Instagram terkesan terlalu menonjolkan aplikasinya, dari fitur-fitur terbaru yang ditambahkan kepadanya: dari fitur ask di InstagramStory dan fitur IGTV.

Yang paling nggak aku sukai dari Instagram adalah para musernya. Aku malas membicarakan mereka, tetapi begitulah Instagram. Not my favorite, but after all nyaman untuk membunuh waktu dan menghilangkan bosan. Setidaknya, tanpa akun-akun dan video muser yang berkeliaran.

Instagram juga banyak berisi kebencian. Akun-akun haters yang niat banget untuk membenci banyak beredar disini. Komentar-komentar buruk dan tak senonoh.

Ketiga, Twitter. Mungkin ini adalah layanan jejaring media sosial yang paling sering kugunakan dan menurutku juga cukup mendidik. Aku belajar bagaimana cara menghargai orang dari Twitter, dan bagaimana kita tidak seharusnya menyebut orang gila sebagai orang gila. Penyakit gila atau apapun yang dialaminya, dia juga manusia biasa seperti kita. 😊

Banyak thread mendidik di Twitter, tapi juga banyak yang berbahaya bagi anak dibawah umur disini. Porns? LGBT?  Man, that’s a wrap. Banyak hal tidak senonoh di Twitter, dan yang aku tidak sukai juga adalah LGBT sangat diterima disini. Melecehkan LGBT? Pasukan yang membela akan menyerangmu.

Namun it’s okay. Aku nggak mempermasalahkan mereka, urusan mereka juga mereka sendiri yang mengurus. Lebih baik diam daripada menumpuk masalah, bukan? Asal mereka yang berbeda nggak menggangguku, aku juga nggak akan mengganggu mereka. It’s not like that I’ll defend them, tapi aku lebih suka ketenangan.

Selain itu, warga Twitter paling suka bertengkar. Ada quote yang terkenal diantara kami:

“Ribut aja, aku nggak suka kalau kalian akur.”

Raditya Dika saja pernah bercerita dalam bukunya, bahwa ia pernah menge-tweet di Twitter sebuah pertanyaan: “Enaknya siomay apa batagor, ya?”

Dan netizen langsung ribut! Dari enakan siomay lah, enakan batagor lah, sampai mengait-aitkan bahwa siomay berasal dari negara ini dan batagor berasal dari planet itu. Capek deh.

Dan warga Twitter, terutama yang berjenis kelamin perempuan, suka menyebut diri mereka kentang. Kentang adalah bahasa halus untuk menyebut diri masing-masing ‘jelek’. Sebagai contoh:

“Iiiih, kamu cantik banget. Aku kentang, nih. ☹”

“Apalah aq,,, yg sedari lahir,,, udah jadi kentang,,,”

Jadi kasihan sama kentang, dia salah apa kok bisa jadi sebutan begitu.

Netizen Twitter juga tidak menyukai warga Instagram dengan berbagai alasan yang bercampur aduk.  Dari kesombongannya lah, dari musernya lah, dari foto-fotonya yang sok eksis lah. Sewaktu Baekhyun membuat akun Twitter, banyak netizen Instagram yang ikut-ikutan membuat akun Twitter untuk mengikuti dirinya. Dan netizen Twitter langsung waswaaas. Soalnya netizen Instagram itu kontroversial banget. Cara berpikirnya nggak sama dengan netizen Twitter.

Rumit dan membingungkan, bukan?

Sebetulnya, aku juga bingung. Honestly, it’s easier to talk rather than wrote it.  Namun ketika aku sedang bercerita tentang masalah perbedaan tiga benua ini kepada orangtuaku, umi menyarankan agar aku menuliskannya saja, berhubung aku juga sudah lama tidak menulis blog.

Well, I will continuing my blog again later, I promise.

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s