kehilangan

aku baru saja menyelesaikan sebuah buku.

buku ini bertema tentang kehilangan.

membacanya, aku jadi banyak berpikir, mendalami tentang tema tersebut.

dunia ini adalah suatu yang fana.

kita hanya ditugaskan untuk tinggal dan menjaganya, menunggu sampai Dia memberikan kesempatan pada kita untuk pulang ke pelukanNya.

aku tidak mudah menangis karena sebuah buku. penulisnya harus benar-benar pandai dalam menulis untuk membuatku benar-benar meneteskan air mata dan membuatku jadi baper semalaman. seingatku, terakhir kali aku menangis karena buku adalah sewaktu aku membaca buku Hujan yang juga kupinjam dari perpustakaan kota.

ah, siapa yang tidak tahu pamor Tere Liye dalam menulis? karyanya selalu pandai menohok dalam gaya yang elegan, penulisan yang enak dipahami namun tidak bergaya murahan.

aku seringkali menangis karena tema yang sama: kehilangan.

aku menangis sewaktu membaca Hujan karena hubungan kedua tokoh utamanya. aku menangis selepas membaca Hujan karena endingnya, sedih bercampur dengan bahagia karena biarpun mereka menikah, tak lama lagi mereka akan sama-sama meninggal karena panas matahari yang sudah diprediksi akan menghancurkan bumi.

buku yang baru kubaca kali ini berjudul Love Puzzle, aku mengambilnya tadi siang sekedar untuk menjadikannya buku cadangan bila sudah waktunya pulang dan aku belum menemukan buku untuk dipinjam.

kalau dilihat-lihat, sinopsisnya terbilang tidak begitu menarik. namun aku tidak menyesal telah meminjamnya.

mengerikan betapa penulisnya, Eva Sri Rahayu, menumpahkan banyak ide dan genre dalam buku ini: dari perilaku aneh yang mudah berubah seorang pemuda, insiden sepasang kembar, kasus bunuh diri, pergantian identitas, kebahagiaan semu hingga mengenai bagaimana cara melepaskan; mengikhlaskan kehilangan.

jika aku ditanya, apakah yang kutakuti hingga saat ini.

dengan gamblang aku akan menjawab: kehilangan.

bagaimana bila salah seorang terdekatku saat ini hilang, pergi meninggalkanku? kita tidak pernah tahu kapan Dia memutuskan untuk mencabut nyawa kita, memutuskan bahwa perjalanan waktu kita di dunia ini sudah selesai.

dari keluarga, teman dan sahabat. terkadang aku suka berbaring diam dalam kegelapan menjelang tidurku, memikirkan apakah besok aku masih terbangun, apakah orang-orang yang kusayang masih bisa berbicara denganku, tertawa bersamaku.

melepaskan, mengikhlaskan kehilangan adalah salah satu ujian paling berat. apalagi melepaskan hilangnya orang yang disayang.

dunia ini adalah tempat yang fana, tempat merasakan kebahagiaan yang semu.

alangkah bahagianya, jika Allah masih memberikanku kesempatan, untuk berbicara dan tertawa bersama orang-orang yang kusayang, menggapai mimpi yang kupendam, dan memperbaiki diriku sedikit demi sedikit.

hanya saja… memperbaiki itu sulit. aku telah mencoba sedikit demi sedikit, tapi ada saja halangan dan godaan yang menghalangiku untuk memperbaiki diri. menyiapkan diri untuk saat-saat yang tidak bisa diduga.

ini bukan malam minggu, bukan pula malam jumat. tapi mengapa genre tulisanku menjadi rada mellow begini ya?

entahlah.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s