energi fosil di dunia

We’re running out of time. Every scientists in the world, they already agree, that you cannot stop it, if you can only slow it down.

Begitu kata Mr. Hasan, yang kudengar saat aku mengikuti Fossil Energy Workshop yang diadakan di Green Mommy Shop, beberapa hari yang lalu.

Apa yang dimaksud oleh Mr. Hasan dalam paragraf yang kutulis pertama tadi?

Pertama-tama, workshop ini membicarakan mengenai titik-titik penghabisan energi bumi. Dalam beberapa puluh tahun, energi dalam bumi akan habis. Bisa saja tidak akan ada lagi makanan dalam sepuluh tahun mendatang. Bisa saja kita punya uang, hanya saja tidak ada makanan yang dapat dibeli.

Makanan akan menjadi rebutan. Orang akan saling membunuh hanya untuk mendapatkan makanan.

Chaostic yang disebabkan oleh borosnya penggunaan energi bumi ini tidak dapat dihentikan. Namun, kita bisa memperlambatnya, dengan mengubah gaya hidup sehari-hari menjadi gaya hidup yang lebih sehat.

Permasalahan yang sedang dihadapi sekarang ini adalah penggunaan energi fosil pada kehidupan sehari-hari, yang nantinya bisa menghambat sektor makanan kedepannya.

Kata Mr. Hasan, “Kalau kalian tahu seberapa besar permasalahan yang sedang terjadi ini, mungkin kalian tidak akan bisa berhenti menangis.” Juga, “Aku merasa kasihan pada anak cucuku, juga anak cucu kalian. Mungkin di zaman mereka hidup, makanan sudah menjadi sesuatu yang langka.”

Salah satu cara yang paling baik untuk memperlambat terjadinya kegemparan kekurangan makanan ini adalah dengan mengubah gaya hidup sehari-hari. Misalnya seperti  makan dari produk yang kita hasilkan sendiri, seperti makan dari sayuran yang ditanam dan diproduksi sendiri, dengan lauk pauk yang diternak sendiri.

Lucunya, seseorang bertanya tentang pendapat Mr. Hasan mengenai mi instan. Beliau tanpa ragu langsung menjawab, “Garbage. Instant noodles all are garbage.”

Mendengarnya, aku yang menyimpan beberapa mi instan dalam lemariku sebagai persediaan langsung merasa tertohok. Tentu saja, siapa yang tidak tahu bahwa mi instan merupakan makanan yang tidak sehat? Aku juga tahu, tapi terkadang, makanan yang tidak sehat itu menggoda karena rasanya yang enak…

Mungkin sehabis ini harus ada yang menulis artikel  tentang pengaruh setan terhadap manusia mengenai ketertarikan dan nafsu mereka terhadap makanan yang tidak sehat.

Kalau dipikir-pikir dan didalami lebih lanjut, penjelasan Mr. Hasan jadi terdengar mengerikan.

Orang Indonesia punya sebuah kebiasaan buruk, terutama orang-orang desanya. Semua orang pasti tahu kebiasaan yang satu ini: membuang sampah di sungai.

“Aku pernah bertemu dengan seorang tukang sampah di atas sebuah tebing. Tukang sampah itu berhenti di tepi tebing dan membuang isi gerobak sampahnya ke dalamnya. Saat aku melongok ke dalamnya, bagian dasar tebing itu penuh dengan sampah.”

Bayangkan tahun-tahun mendatang. Jurang tebing itu akan penuh dengan tumpukan sampah hasil buangan masyarakat setiap saatnya dan membuat berbagai masalah beruntun setelahnya.

Untuk siapapun yang membaca ini, tolong, mulailah dengan hal-hal kecil terlebih dulu. Seperti berbelanja dengan menggunakan kantong kain atau totebag, membiasakan diri untuk tidak menggunakan kantong plastik, mengurangi penggunaan plastik, dan mulai menanam sayuran di rumah kalian.

Kalau bisa, kurangi juga penggunaan motor dan mobil untuk bepergian ke tempat yang dekat. Ini adalah salah satu yang sejujurnya sulit untuk kulakukan, tapi bukankah semua hasil yang bagus butuh usaha?

 

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s