education and life

Mungkin sebagian dari kalian pernah berpikir serupa.

Untuk apa belajar di sekolah? Kalau ujung-ujungnya jadi pengangguran.

Belasan tahun bersekolah, memeras keringat demi mencetak nilai bagus pada kertas rapor nggak ada gunanya ketika lulus. “Loh, sekarang aku udah lulus. Sekarang aku ngapain?”

Sebanyak 6,87 juta orang penduduk Indonesia sekarang masih berprofesi sebagai pengangguran, meskipun jumlah tersebut sudah mengalami penurunan sebanyak 140 ribu orang sejak Februari 2017.

Menurutku, ada yang kurang dari pembelajaran sekolah Indonesia sekarang: sekolah kita kurang mengajarkan passion. Selama ini, yang diperintahkan untuk kita pelajari hanyalah pelajaran akademis. Memang pelajaran akademis itu terbilang penting untuk pelatihan kecerdasan umat. Tetapi apakah dengan begitu kita tidak bisa memikirkan passion pada diri kita sendiri?

Singapura adalah contoh yang bagus dalam mengatur sistem pembelajaran masyarakatnya. Departemen Pendidikan Singapura bertujuan untuk membantu siswanya menemukan bakat mereka sendiri, menggali bakat terbaik mereka dan menyadari potensi penuh mereka, dan untuk mengembangkan semangat untuk belajar yang berlangsung sepanjang hidup. (Sulita Batigol, 2014)

Pemerintah Finlandia berperan besar dalam sistem pendidikan rakyatnya. Mereka mensubsidi biaya pendidikan para guru, membiayai beasiswa sebagian besar siswanya, memberikan pelatihan penuh terhadap guru sekolah. Lalu salah siapa peringkat pendidikan Indonesia menempati posisi 108 di dunia, jauh di bawah Malaysia, Palestina bahkan Samoa dan Mongolia?

Apakah pemerintah? Menurutku, pemerintah tidak sepenuhnya bersalah. Mental masyarakat –adalah salah satu yang juga perlu diperbaiki.

Melepaskan topik dari pendidikan sebentar, baru-baru ini ada berita MRT di Jakarta yang bahkan belum beroperasi, sudah menjadi korban vandalisme orang yang tak bertanggung jawab. Sementara itu, masih ada saja yang berkomentar bahwa pemerintah tidak memberikan fasilitas penuh kepada rakyatnya.

Kalau diberikan fasilitas baru saja masih senorak ini, mana sudi diberikan fasilitas lainnya?

Sebenarnya nggak semua sekolah memiliki sistem pembelajaran yang buruk.

Sekolah swasta tempat seorang teman dekatku bersekolah memiliki sistem pendidikan yang cukup bagus –walau menurutku agak sedikit terlalu ketat. Bayangkan, mereka melarang siswanya memiliki media sosial –namun yang kukagumi adalah mereka memiliki sistem pembelajaran dengan magang. Mereka harus mengumpulkan uang sebanyak yang telah ditentukan dengan bekerja. Tidak boleh menggunakan pemberian orang tua, mereka harus mendapatkannya dengan hasil keringat sendiri.

Kalau saja sistem pembelajaran Indonesia juga menggunakan pembelajaran magang terhadap siswanya, mungkin pengangguran sudah sejahtera. Bukan anak sekolah dasar yang kumaksud, melainkan yang sudah menginjak umur baligh, yang sudah cukup umurnya untuk belajar bagaimana cara menghadapi hidup; hidup yang sesungguhnya, bukan sekedar hidup di dalam ruangan kelas yang umumnya berukuran 9 x 8 meter menghadapi buku tulis dan pensil mendengarkan penjelasan guru yang entah didengarkan atau tidak.

Belajarlah keluar dari zona nyamanmu. Lakukan apa yang belum pernah kalian lakukan.

Carilah passionmu, jangan sekedar membatasi diri pada pelajaran akademis saja. Lihat sekeliling, cari apa yang kalian sukai, hobi yang kalian senangi.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s