Nostalgia and Another Story about Insecurities

Omong-omong soal insecurity di artikel kemarin, aku mau bercerita.

Entah kenapa setelah berpikir lama belakangan, aku menyadari bahwa media sosial sangat berpengaruh pada gaya berpikirku dan banyak merubah hal yang sudah terpatok di kepalaku. Mengapa?

Aku lahir sebagai seorang anak kedua berbobot tiga kilogram yang hiperaktif (dalam bentuk istilah). Sewaktu TK, aku tumbuh menjadi anak yang kelewat percaya diri dan pemberani. Pernahkah aku bercerita aku pernah dibully gerombolan anak laki-laki sewaktu duduk di kelas satu sekolah dasar sampai menangis di tengah pelajaran agama?

Mungkin tidak, mungkin iya, dalam penjelasan yang tidak begitu detail.

Setahun dua tahun sebelumnya, aku adalah anak yang sama sekali berbeda. Kakakku adalah anak yang pemalu pada saat itu dan mudah sekali dibuat menangis oleh teman-temannya yang bandel.

Kata umi, suatu kali saat mas dibuat menangis lagi oleh salah seorang temannya, aku langsung berjalan gagah menggertak oknumnya yang langsung mengkerut karenanya. Setelah mendengar cerita itu, aku tidak bisa melihat teman mas, yang merupakan teman baiknya sekarang ini dengan cara yang sama lagi. Ya gimana… cewek kok barbar.

Sekolah TK tempatku bersekolah saat itu, bagiku, adalah sebuah keajaiban bagiku. Mukjizat. Mungkin jika aku bersekolah di TK yang lain pada saat itu, mungkin sekarang aku sedang berkutat mengerjakan pekerjaan soal Fisika dan mencoba merapal bacaan Biologi, alih-alih memikirkan ide baru apa yang harus kutulis untuk blogku hari ini.

Semua berubah setelah aku lulus di usia lima tahun dan masuk ke sebuah sekolah swasta.

Kehidupan kelas satu SDku cukup berat, sampai di sekolah harus jam tujuh pagi dan pulang jam empat sore diantar ojek. Belum lagi pekerjaan rumah yang menumpuk. Setiap kali aku melihat seseorang mengeluh tentang full day schoolnya yang bikin pening kepala, aku ikut tertawa miris mengingat aku bahkan sudah masuk pukul tujuh dan pulang jam empat sore di usia kurang lebih enam tahun. Hiperaktifku mulai hilang dan aku jadi sering sakit-sakitan. Sampai sekarang, aku masih ingat saat aku pulang sekolah dalam keadaan cuaca hujan deras. Aku sampai dengan menggigil, dan langsung disuguhi cokelat panas di rumah.

Tapi aku sebenarnya nggak seintrovert itu juga sewaktu kelas satu. Bahkan, masih ada jejak pesan wali kelasku dalam rapor semester ganjilku yang memberi pesan agar aku tidak banyak mengobrol dalam kelas sewaktu pelajaran.

I befriend everyone, I talk with anyone, hanya saja, mungkin karena aku adalah anak dengan tubuh termungil di kelas, ada saja yang mau jadi tukang bullyku. Aku sudah nggak begitu ingat dengan alasan apa mereka bully aku, tetapi aku masih ingat sebagian dari mereka. Mereka nggak jahat kok, cuma bandel.

Ada steorotip dimana orang banyak mengira, anak yang sering dibully di kelas adalah anak yang penyendiri dan tidak punya teman. Aku cukup sering dibully, tetapi aku juga masih mengobrol dan bermain dengan teman sekelasku. Aku suka bertukar binder dengan teman-teman perempuanku.

Saat aku memutuskan untuk homeschooling, nggak ada acara perpisahan menangis atau semacamnya. Begitu aku memutuskan untuk tidak sekolah lagi, aku tidak pergi ke sekolah. Aku hanya membuat sebuah surat untuk wali kelasku, yang entah apakah masih disimpan oleh mereka atau tidak.

Let’s get to the point, sebelum aku mulai banyak bernostalgia tentang masa lalu (yang literally baru sekitar tujuh atau delapan tahun yang lalu, man). Aku adalah anak yang pantang menangis dan semacamnya saat TK dan termasuk golongan anak barbar. Begitu lulus dan bersekolah di sekolah dasar, aku jadi banyak menangis. Aku nggak sepercaya diri itu lagi untuk menghadapi anak laki-laki.

Menjadi homeschooling, aku kembali sebagai seorang anak hiperaktif, yang kali ini ditambah dengan hobi menulis dan membaca buku sambil tiduran di lantai atau karpet, yang jelas bukan pagar. Ditambah pula dengan hobi baru menguntit mas dan teman-temannya keluyuran kesana kemari, sampai membangkang pada Bu Ju, asisten rumah tangga kami dulu dan membuat abi mengamuk karenanya.

Tahun demi tahun, aku mulai mengenal sisi internet yang lebih dalam. Dari sanalah insecurityku mulai muncul menghantuiku. Dari sanalah sisi sempurna internet yang dapat menciptakan sosok bernama insecure dalam diri seseorang tampak terang dalam kehidupanku.

Sejak kecil, aku memiliki dua bekas cacar di kedua pipiku yang sampai sekarang masih belum bisa hilang dan sepertinya satu-satunya cara menghilangkannya hanya dengan dilaser di klinik kecantikan khusus.

Saat aku berumur delapan atau sembilan tahun, aku sudah sesadar itu dengan keberadaan bekas cacar di kedua pipiku sampai diam-diam mengambil sebuah wadah krim kecantikan milik umiku di atas meja dan membalurkannya di bekas cacarku.

Damn insecurities… kalian memang tidak mengenal umur.

Tapi entah kenapa, belakangan aku merasa lebih bahagia dan menyayangi diriku sendiri daripada sebelumnya. Aku tidak begitu memperhatikan tentang berantakan pakaian yang kukenakan saat aku keluar dari rumah, tentang ketidakcocokan sandal yang kupakai dengan bajuku dan aku juga mencintai kulitku yang tidak semulus selebriti sedang naik daun.

The answer to the question about how to cure insecurities: love yourself. Don’t listen to what people said, sesungguhnya hanya kita saja yang tahu apakah yang terbaik untuk diri kita sendiri. Ada yang bilang kamu tidak cocok pakai baju kuning, terlihat jelek memakainya? Man, just use it proudly in front of it eyes! Atau ada yang bilang kulitmu terlalu gelap untuk orang Indonesia pada umumnya? Kenakan baju terbaikmu dan berjalanlah dengan bangga di depan orang tersebut. Who cares? Ini tubuh kita, diri kita. Jangan tergantung kepada orang lain, teruslah menjadi seorang yang percaya diri.

Lawanlah insecurity, tendang anxiety, junjung kepercayaan diri!

…kayaknya ini edisi sok bijak Hari Belanja Nasional sehabis aku checkout sejumlah produk yang harganya mungkin bisa bikin aku puasa dua minggu… *otw mengganti nama menjadi Zahra Teguh*

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s