A Tree Grows in Brooklyn; sebuah review

91n3sOVJ23LBuku ini adalah salah satu buku tertebal pertama yang kumiliki, sebuah buku yang jelas akan kurekomendasikan pada teman-temanku biarpun sebagian dari mereka sudah mundur dua langkah melihat ketebalan bukunya yang bisa bikin puyeng setelah baca buku pelajaran di sekolah.

Berksah tentang keluarga miskin di pinggiran Brooklyn, sang ayah pemabuk berat, ibunya tukang bersih-bersih, keduanya berupaya keras untuk kedua anaknya, memberi mereka pendidikan yang bagus agar mereka bisa keluar dari jerat kemiskinan.

Aku paling suka buku terjemahan, soalnya kebanyakan dari buku terjemahan tulisannya bergaya aku banget. Terutama buku ini; cara penulisnya menggambarkan keseharian mereka sebagai penduduk miskin yang sehari-hari hanya bisa makan seadanya, dari wortel lemas, lobak bau sampai roti basi sisa dari toko roti, and how they can surpass it, benar-benar menginspirasiku.

Ibunya adalah seorang yang kreatif, bisa menyulap roti dan kue basi jadi makanan yang layak makan buat keluarga mereka. Putri pertama sekaligus tokoh utama, Francie, adalah salah satu tokoh favoritku diantara buku-buku lain yang pernah kubaca. Seorang gadis yang tegar, percaya diri, mandiri dan pemberani. Nggak sekali dua kali dia dibully karena berasal dari pemukiman anak miskin, pinggiran Brooklyn yang kotor, dan dia hampir nggak punya teman sama sekali.

Dan dia masih bisa menghadapi hal itu. Bacanya bikin aku malu sama diri sendiri,¬†because she’s really a strong person. What about me?¬†Can’t be compared¬†la ke anak seperti dia.

Seperti banyak buku lainnya yang kubaca, buku ini sangat underrated. Banyak hal bisa kalian temukan disini: diskriminasi ras dan kasta seseorang, kasus pelecehan dan pembunuhan, kisah dan seluk beluk jaring kemiskinan yang tinggi dan bagaimana orang harus mengais tempat sampah untuk mendapatkan sekedar keping satu dua sen atau makanan basi agar bisa makan.

Cerita ini merangkum kehidupan Francie dan keluarganya sejak dia masih remaja hingga dewasa, bertemu dengan cinta pertamanya dan mengalami patah hati pertamanya, berhasil melewati era kemiskinan keluarganya menuju ke waktu yang lebih baik.

Dan berkat aku menuliskan review hari ini dan membuka Google untuk mencari foto bukunya, aku menemukan bahwa buku ini ternyata sudah difilmkan kurang lebih delapan puluh tahun yang lalu, tepatnya di tahun kemerdekaan Indonesia, 1945. Tentu saja langsung masuk ke daftar wishlist film yang akan kutonton dengan sekejap. Bingo!

Rating: 10/10. Sebuah recommend untuk kalian yang suka membaca buku bergenre slice of life. Thumbs up for Betty Smith!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s