Psikopat.

So, well, I almost had a heart attack while sweeping my house’s terrace just a while ago. I saw someone walking quite swiftly in the darkness, and my heart almost jumped out of my throat, but then I exhaling deeply. While trying to calming my poor fragile heart, I whispered to myself, that’s just a neighbor passing by…

All of this havoc on my mind and soul is caused by a book I just finished reading. Dude, I feel like my body is bobbing in a small ship in a storm that doesn’t stop!

That so-called online book is titled When A Snail Loves, with a quite cute and lovely synopsis that surprisingly deceived me, lures me into a hole full of darkness: death, frightening cases and psychopaths. At first, I thought that certain book is full of pure, lovely romance relationship with some light conflicts inside. Who knows that the conflicts inside is so freaking intense that makes me wanna scream?

Aku senang baca buku-buku online, karena kebanyakan dari mereka memiliki drama dan conflict yang¬†intense¬†dan selalu mengisapku lebih jauh dalam lubang hitam. This is a thing that I mostly didn’t find in any Indonesian published books: hard conflicts. Well, mungkin banyak yang bakal berpikir bahwa aku tidak membaca buku Indonesia sebanyak itu untuk bisa menyimpulkan hal seperti ini.

Tetapi menurutku, kebanyakan buku remaja yang diterbitkan belakangan ini memang tergolong sangat ringan dan kelewat menggelikan. Aku pernah membaca sejumlah buku yang berasal dari Wattpad, mereka teramat sangat populer dan sebagian besar telah difilmkan. Tidak hanya itu, ada sebagian buku yang saat kuintip bagian dalamnya dengan penasaran di perpustakaan juga memiliki masalah yang sama.

Can you believe how much is the cringeness I’ve felt?¬†Aku hampir muntah darah. (memutar mata) dan inilah alasan mengapa aku lebih suka membaca, dan atau meminjam buku-buku terjemahan di perpustakaan.

Aku orang yang pemilih, orang yang picky dalam memilih buku bacaan. Bila dulu aku senang sekali membaca buku yang memiliki paragraf pendek dan tergolong ringan, dan diantara contohnya ada jenis buku-buku yang baru saja kukritik tadi, sekarang aku lebih menyukai buku-buku tebal berparagraf panjang yang menjelaskan situasi dalam dunia buku dengan detail. Buku-buku yang menemui ekspekstasiku seperti ini, belakangan baru ada pada buku-buku terjemahan. Baik terjemahan bahasa Inggris maupun Chinese. Tidak Jepang, emoji dan tanda seru yang digunakan di buku bahasa Jepang terlalu berlebihan untuk kebaikanku.

Buku-buku yang ditulis Dan Brown, serial Percy Jackson, Jostein Gaarder, dan sejumlah buku tertentu seperti Graceling yang ditulis oleh Kristin Cashore maupun serial Tiger Saga yang ditulis oleh Colleen Houck (aku baru baca buku pertama dan keduanya, yah, hanya itu yang ada di perpustakaan. Buku ketiga belum diterjemahkan dan aku sedang menabung untuk membeli ebook berbahasa Inggrisnya.), adalah contoh dari tipe buku yang belakangan senang sekali kubaca. Tidak ada satupun dari mereka yang tidak memiliki drama maupun conflict yang intense, yang bisa membuatku meremas dan menjambak rambut dengan frustasi dan seolah terombang-ambing di kapal yang terjebak badai besar.

Kuharap, aku bisa menjadi penulis seperti itu juga, walaupun kupikir rasanya tak mungkin dalam waktu dekat karena semakin banyak buku seperti itu yang kubaca, semakin tinggi ekspekstasiku untuk buku yang kutulis. Itu mungkin menjelaskan mengapa progressku dalam menulis bisa dibilang hampir tidak meningkat sama sekali.

…selain karena malas.

Omong-omong, aku belum bilang mengapa jantungku seperti hampir keluar dari tenggorokanku saat melihat bayang-bayang tetanggaku dari kegelapan tadi.

Salah satu conflict yang ada di buku yang kumaksudkan tadi menceritakan tentang kasus psikopat, so-called serial killer yang sudah lama berkeliaran, memperkosa dan membunuh para gadis muda. Yang membuatku menjadi suram, para psikopat ini nggak cuma satu, tapi tiga sekaligus! Salah satu diantaranya adalah tipikal orang yang sangat tidak mungkin kau pikir adalah psikopat. Baik hati, tampan, bijaksana, penuh kasih, tenang dalam segala situasi.

Aku jadi semakin tidak ingin keluar dari kamarku yang nyaman untuk menghadapi hidup yang kejam, karena, aku yakin, diantara sejuta orang, pasti ada satu orang seperti ini. Orang yang terlihat kalem dan polos di luarnya, namun memiliki sejuta rahasia yang mengerikan di dalam dirinya.

Sehabis selesai membaca novelnya dan kehilangan kata-kata, aku mencaritahu soal psikopat dan berbagai kasus serial killer dan pembunuhan yang terkenal di internet. Pencarian pertamaku tertuju kepada seorang dengan nama akhir Holmes. Aku membuka artikelnya karena penasaran karena nama marganya mirip dengan sang detektif legendaris Sherlock Holmes.

Henry Howard Holmes, yang bernama asli Herman Webster Mudgett, salah seorang pembunuh berantai paling terkenal di dunia yang memiliki jiwa psikopat dibalik penampilannya yang tidak pernah menarik kecurigaan orang sekitar. Ia adalah seorang kaya yang membangun sebuah hotel, sebuah mansion yang tidak dinyana ternyata adalah tempat dimana puluhan atau mungkin ratusan orang meninggal di tangannya sendiri.  Bangunan terkutuk itu didesain secara khusus sebagai tempat untuk menjebak dan menghabisi korbannya, yang dilakukannya dengan mengatur agar arsitek dan pekerja yang membangunnya selalu diganti secara bertahap.

Sejak muda, perilakunya sebenarnya memang sudah aneh. Bisa dibilang ia adalah anak pintar; yang kepintarannya membawanya membedahi hewan-hewan dan dianggap bertanggung jawab atas kematian seorang temannya.

Padahal ia lahir dari keluarga berkecukupan. Pikirku, dasar bandit tak bersyukur. (aku sebenarnya ingin menggunakan kata umpatan yang lebih kasar, tapi kemudian pikirku tidak pantas karena aku menjaga artikel blogku selalu child approppriate. Hehe.)

Para wanitanya; yang mungkin bisa kubilang kekasih atau mistressnya, sebagian dari mereka berasal dari keluarga kaya. Dan sebagian orang tidak pernah melihat keluarga kaya itu lagi. Hal yang tertulis di salah satu artikel teratas dalam pencarianku terhadap Holmes ini agak membuatku bingung, siapa yang tidak pernah melihat keluarga kaya itu lagi? Yang menghilang itu wanitanya atau keluarganya? Agak complicated, memang.

Aku pernah membaca sebuah komentar dalam suatu online blog yang pernah kukunjungi. Ia menyebutkan bahwa suatu kali, guru keponakannya yang duduk di kelas satu, pernah meminta para muridnya untuk menggambar binatang paling mengerikan yang mereka tahu setelah sebuah kunjungan ke kebun binatang. Keponakannya, yang masih duduk di kelas satu, menggambar seorang pria sementara anak lainnya menggambar serigala, harimau dan ular.

Dan aku tahu, sesungguhnya, ia benar. Manusia adalah binatang yang paling kejam dan berbahaya. Tidak hanya laki-laki, perempuan juga bisa sangat mengerikan. Terlepas dari gender mereka, siapa yang bisa tahu apa isi pemikiran mereka selain diri mereka sendiri, juga Tuhan, dibalik topeng wajah mereka yang penuh perasaan rendah diri?

Ketertarikanku mencari kasus pembunuhan berantai ini membawaku ke sebuah kasus yang belum pernah kudengar sebelumnya: pembunuhan Ade Sara, terjadi di Indonesia beberapa tahun yang lalu. Aku menemukannya saat sedang membaca artikel tentang psikopat, kalau tidak salah.

Kalau boleh jujur, para pembunuh dalam kasus pembunuhan Ade Sara ini benar-benar konyol, menggelikan, bodoh, tak masuk akal, tak berotak. Berawal dari cinta segitiga. Cinta segitiga. Karena kecemburuan. Buat orang yang tidak pernah merasa setertarik itu dengan anak cowok sepertiku, hal ini seratus persen konyol.

I mean, that damned guy isn’t even that handsome

Kalau misalnya kegantengan laki-laki yang mereka perebutkan itu paling nggak 0.1% kegantengan Tom Cruise atau Leonardo DiCaprio saat muda, mungkin aku masih bisa mengerti. Tapi, lelaki yang mereka perebutkan ini tidak tampan, tidak tinggi, keseluruhannya nggak sespektakuler itu.

Ditambah dengan kebodohannya membunuh mantan kekasihnya sendiri bersama kekasihnya yang baru, aku nggak mengerti hal baik apa yang pantas diperebutkan dari dirinya.

Dan mereka juga masih berani saling menyalahkan satu sama lain di pengadilan. Yang lelaki menumpahkan pertanggungjawaban pada si perempuan, si perempuannya sambil menangis tersedu-sedu ia bilang ia dipaksa lelakinya… benar-benar pasangan yang sangat pantas, dari segi luar dalam.

Sejujurnya, aku menyesal kenapa mereka tidak dijatuhi hukuman mati saja. Hukuman 20 tahun penjara, yang kabarnya ditambah menjadi penjara seumur hidup, nggak cukup bagi iblis seperti mereka.

Iblis yang kumaksud juga termasuk para iblis yang sekarang masih berkeliaran di dunia, mencari korban demi korban untuk disantap. Terutama para pembunuh berantai itu, para psikopat itu, yang membuatku ingin sekali menguliti kulitnya satu persatu.

Bagaimanapun, psikopat yang asli, tidak akan bersikap laiknya seorang psikopat. Mereka mungkin bakalan bersikap lebih normal dari manusia biasa. Dan itulah yang mengapa aku nggak ingin keluar dari dunia remajaku, dunia kasur dan bantalku yang nyaman.

Untuk apa aku harus turun dari awan untuk jatuh ke lubang buaya? Orang-orang jadi makin aneh seiring waktu berjalan.

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s