Belajar itu Bertarung, dan Hidup adalah Medan Perang

Sumber featured photo: Unsplash by Annie Spratt.

Semua orang harus belajar self-directed learning. Semua orang, tidak peduli status persekolahan maupun profesinya. Apakah kita bersekolah atau tidak, bersekolah formal atau tidak, apakah berkuliah atau bekerja, apakah ibu rumah tangga atau pengangguran, bukanlah alasan mengapa kita tidak perlu belajar self-directed learning.

Sebab, seperti yang telah tercamkan dalam judul: belajar itu bertarung, dan hidup adalah medan perang. Lalu bagaimana cara kita bertarung dengan baik agar bisa survive di medan perang alias kehidupan?

Yak! Belajar cara belajar.

Self-Directed Learning: Belajar Cara Belajar Mandiri

Sejak dini, banyak orang telah dimanjakan dengan ilmu yang disuapkan kepada mereka dalam bentuk pelajaran di ruang kelas sekolah. Dalam beberapa kasus, asupan ilmu ini bahkan disuapkan secara paksa. Hal ini dapat mengakibatkan minat siapa pun pada belajar turun. Mereka tidak merasakan betapa nikmatnya proses pencarian ilmu, yang kalau mengutip perkataan sejumlah orang tua,

“Kalian mah enak, ilmu sudah tersedia sedemikian mudahnya untuk dipelajari. Dulu demi menuntut ilmu, abah harus bersusah-susah naik gunung, berpeluh melewati sawah puluhan kilometer dan melawan monster…”

Mungkin tanyamu, lalu apa hubungannya istilah aneh self-directed learning dengan belajar? Bukankah maknanya hanya belajar mandiri?

Jawabku, self-directed learning memang belajar mandiri. Terlebih, belajar cara belajar mandiri.

Belajar adalah kebutuhan manusia yang krusial. Kemampuan ini sangat dibutuhkan bahkan di luar lingkup sekolah sekalipun. Dan menurut Candy (1990), self-directed learning adalah sebuah metode merubah para individu menjadi pemelajar seumur hidup. Self-directed learning mengganti penafsiran belajar sebagai sesuatu yang hanya dilakukan di sekolah saja menjadi belajar adalah sesuatu yang dilakukan hingga akhir hayat.

Sumber: dok. pribadi (dibuat di imgflip.com)

Berdasarkan studi Aşkin dan Demirel (2018), beragam hasil penelitian yang telah dilakukan sebelumnya menunjukkan bahwa self-directed learning melahirkan kemampuan berpikir tingkat tinggi seperti kreativitas, pemecahan masalah, dan berpikir kritis. Studi Aşkin dan Demirel (2018) ini juga mengemukakan bahwa beragam penelitian telah menunjukkan bahwa self-directed learning juga berperan besar dengan keberhasilan akademik.

Mungkin kamu bertanya-tanya. Bukankah semua orang seharusnya sudah bisa belajar mandiri?

Menurutku, belum semua orang memiliki kemampuan self-directed learning. Ini mulai terlihat kentara setahun yang lalu ketika negara api alias pandemi menyerang. Sekolah luring ditiadakan dan digantikan oleh sekolah daring untuk kebutuhan isolasi masyarakat. Sistem sekolah di negara kita belum siap menyambutnya. Ketiadaan kegiatan bersekolah memadamkan kegiatan belajar para siswa, yang memiliki anggapan bahwa belajar hanya di sekolah. Mereka yang sudah terbiasa dibimbing untuk belajar kebingungan ketika kenyataan mengharuskan untuk belajar sendiri.

Hal seperti itu tidak hanya terjadi di jenjang sekolah dasar dan sekolah menengah saja. Seorang dosen pembimbing yang kukenal dekat bercerita bahwa ada seorang mahasiswanya yang bahkan masih perlu dibimbing untuk persoalan mencari data skripsi saja. Padahal, kemampuan self-directed learning adalah kemampuan yang sangat krusial bagi mahasiswa, yang mana dapat menghindari situasi seperti ini terulang kembali.

Sistem sekolah menurutku memiliki sebuah kekurangan, yakni dalam membuat para siswanya menikmati cara belajar itu sendiri. Murid menjadi terbiasa menunggu sampai ilmu disuapkan kepada mereka, dan sebagian bahkan sampai menakuti kata belajar itu sendiri. Self-directed learning dapat menyadarkan bahwa belajar bukanlah sebuah hal yang “wajib” untuk dilakukan hanya karena mereka bersekolah, melainkan belajar adalah sebuah “bagian” dari kehidupan itu sendiri.

Kalau menurut Malcolm S. Knowles, seorang edukator dewasa terkenal, “Belajar mandiri adalah sebuah proses di mana seorang individu mengambil inisiatif, dengan atau tanpa bantuan orang lain, dalam mendiagnosis kebutuhan belajar mereka, merumuskan tujuan pemelajaran, mengidentifikasi sumberdaya manusia dan materi untuk belajar, memilih dan menerapkan strategi pemelajaran yang tepat, dan mengevaluasi hasil pemelajaran.”

Singkatnya, apabila seorang pemelajar biasa adalah seorang yang belajar hanya dari sumberdaya yang telah diberikan kepadanya, maka seorang self-directed learner adalah seorang yang pergi melampaui batas-batas yang ada, termasuk batas dirinya sendiri—mereka belajar dari sumberdaya yang diberikan kepadanya, DAN mencari sumberdaya mereka sendiri di luar yang telah diberikan, dan mengontrol serta mengevaluasi perkembangan hasil pemelajaran mereka. Mereka belajar karena inisiatif mereka sendiri, tanpa adanya paksaan eksternal, dan mereka tahu kekurangan dan kelebihan dalam strategi belajar masing-masing yang bisa meningkatkan efektivitas pemelajaran mereka.

Self-directed learner memiliki seluruh keputusan untuk menentukan strategi perang mereka; strategi pemelajaran yang mereka rancang sendiri..

Learning is How to Fight, and Life is a Battlefield

Dalam buku The Art of War, Sun Tzu pernah menyebutkan: “If you know the enemy and know yourself, you need not fear the result of a hundred battles. If you know yourself but not the enemy, for every victory gained you will also suffer a defeat. If you know neither the enemy nor yourself, you will succumb in every battle.

Artinya, “Kalau kamu mengenal musuhmu dan mengenal dirimu sendiri, kamu tidak perlu takut akan hasil dari seratus pertempuran. Kalau kamu hanya mengenal diri sendiri tetapi bukan musuh, untuk setiap kemenangan yang diperoleh kamu juga akan menderita kekalahan. Kalau kamu tidak mengenal musuh maupun dirimu sendiri, kamu akan menyerah dalam setiap pertempuran.”

Learning is how to fight, and life is a battlefield. Belajar adalah bagaimana cara bertarung, dan kehidupan adalah medan perang. Dengan mengenal baik strategi belajar yang kita miliki, setiap pertarungan yang dihadapi akan berakhir dengan kemenangan. Inilah di mana self-directed learning bisa menjadikan kamu sebagai seorang pemenang dalam kehidupan—tentunya dengan cara yang berbeda-beda untuk setiap orang!

Katakanlah ada dua orang siswi bernama Siti dan Ayu. Keduanya bersekolah di sekolah dan kelas yang sama.

Siti adalah seorang pemelajar. Ia belajar dengan rajin di sekolah, mendengarkan guru dengan tekun, dan mengerjakan setiap soal yang diberikan dengan gusto. Namun hanya itu. Ia terkungkung dalam sebuah kotak bernama ruang kelas sekolah.

Sementara Ayu adalah seorang pemelajar mandiri. Ia juga melakukan hal yang sama seperti Siti, namun lebih dari itu. Apabila para siswa lain sudah cukup dengan mengetahui bahwa bumi itu bulat lonjong, Ayu merasa bahwa itu belum cukup. Mengapa bumi bisa dan harus berbentuk bulat lonjong? Maka dari itu ia membuka mesin pencari, membuka berbagai buku pengetahuan, mencari jawaban dari pertanyaannya dari beragam sumber, belajar melampaui batas yang ada dengan caranya sendiri.

Keduanya mungkin mendapatkan nilai yang serupa di atas kertas ujian, namun di sini Ayu telah mendapatkan apa yang tidak Siti dapatkan: pemahaman ilmu yang lebih dalam. Apabila kamu tidak menyadarinya, Ayu juga baru saja melakukan critical thinking dan problem solving, dua kemampuan krusial dalam kehidupan, dalam proses belajarnya.

Sumber: dok. pribadi (dibuat di imgflip.com)

Belajar Cara Menjadi Pemelajar Mandiri

Sedari tadi kita sudah membahas definisi self-directed learning. Lalu bagaimana cara mengaplikasikannya?

Pertama, seperti kata pepatah, know thyself. Apa alasanmu ingin belajar cara belajar self-directed learning? Metode belajar apa yang sesuai denganmu? Apakah visual, auditorial, membaca menulis, atau kinestetik? Kelebihan dan kekurangan apa yang kamu miliki dalam belajar? Lakukan juga evaluasi diri dengan mempertimbangkan pengalaman belajar mandiri di masa lalu, kemungkinan kesulitan yang bisa dihadapi dalam pemelajaran mandiri, dan apakah lingkungan mendukung untuk melakukan pemelajaran mandiri ini.

Kedua, menentukan goals atau tujuan belajar. Buat sebuah tujuan alasanmu ingin mempelajari sesuatu, kesulitan dan kelebihanmu dalam mencapai hal itu. Dengan menetapkan sebuah tujuan belajar, perjalanan kita menunaikan kegiatan ini bisa menjadi lebih ringan.

Anggap saja seperti seorang anak kecil yang dijanjikan permen asalkan ia mendapat nilai 100 dalam ujian akhir semester. Hanya saja, dalam kasus ini, kamu sendirilah yang menjanjikan dirimu sendiri, atas hadiah dan persyaratan yang kamu tentukan sendiri.

Ketiga, memahami kebutuhan dan preferensi dalam belajar. Guru seperti apa yang kamu inginkan? Metode pengajaran seperti apa yang sesuai dengan preferensimu? Apakah mungkin untuk beradaptasi dengan metode pengajaran guru yang ada di sekolah, misalnya? Bagaimana cara kamu mendapatkan sumberdaya yang dibutuhkan dalam belajar? Apakah lingkungan sekitar sudah mendukung untuk belajar secara mandiri?

Keempat, refleksi diri untuk evaluasi pemelajaran. Evaluasi diri setiap minggu, dari menganalisis progres pemelajaran hingga mengevaluasi sikap perilaku yang menurutmu perlu untuk diperbaiki dan dikembangkan. Topik pelajaran mana yang masih kurang dipahami? Kesalahan apa yang dilakukan minggu ini yang di masa depan harus tidak diulangi?

Kelima, belajar bahasa Inggris! Dari pengalaman pribadi, ini salah satu tips terpenting dalam belajar daring. Sebab, kalau mau menyelam lebih dalam, sebenarnya banyak ilmu bagus bertebaran yang sukar ditemukan berbahasa Indonesia. Miliaran artikel dan video berbahasa Inggris di luar sana menunggumu untuk mempelajarinya. Ribuan bahkan jutaan guru tanpa gelar yang membagikan ilmu berharganya secara cuma-cuma.

Sekarang, setelah kamu belajar cara belajar, maka telah tumbuh dalam dirimu kemampuan bertarung yang mumpuni, pedang yang diasah tajam, dan strategi yang andal. Kamu siap bertarung di medan perang.

#LombaBlogUnpar #BlogUnparBelajarDaring

Daftar Pustaka

Candy, P. C. (1990). “The transition from the learner-control to autodidaxy: more than meets the eye,” in Advances Research and Practice in Self-Directed Learning, eds H. Long, et al. (Oklahoma: Oklahoma Research Center), 9–46.

Askin et al (2018). “An Investigation of Self-Directed Learning Skills of Undergraduate Students,” in Frontiers in Psychology.

Leave a Comment

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s